Ketika Esau Jatuh Cinta — #FF2in1

Anggaplah aku abang paling jahat di dunia, tapi aku benci ketika Esau jatuh cinta.

Anak laki-laki itu baru naik kelas dua SMA, tapi lagaknya sudah seperti pujangga yang akhirnya menemukan jodoh sejatinya setelah hampir dua puluh tahun tua dalam perjalanan. Ia jatuh cinta pada kekasih barunya dengan gaya berlebihan.

Bulan depan juga putus!

Aku sudah bilang aku abang yang jahat, kan?

“Layla itu cantik seperti bidadari, bang. Matanya hitam sepekat malam, dan senyumnya manis semanis sup durian. Oh, Layla…” Esau berkata dengan wajah jatuh cinta. Atau dalam versiku, wajah setengah mabuk kebanyakan ngelem.

Bandingin senyum perempuan kok sama Sup Durian.

“Aku jatuh cinta sama dia bang, dari bumi ke planet Pluto, terus balik lagi, balik lagi.” Esau melanjutkan. Dia beneran ngelem kayaknya.

“Jangan terlalu jatuh cinta. Masih muda, kamu. Nanti putus nangis jerit-jerit lagi,”  aku mengingatkan, tapi dia malah acuh saja.

“Enggak mungkin,” tangannya mengibas di udara. “Kita berdua itu jodoh. Kayak Jake dan Rose di film Titanic.

Esau sepertinya lupa bahwa film itu berakhir dengan menyedihkan. Tokoh utama prianya mati kedinginan, lalu tenggelam. Kasihan.

Tapi Esau tidak perduli. Selayaknya orang jatuh cinta, ia akan terus bahagia. Sekeras apapun orang bicara, ia akan tuli dengan tiba-tiba.

Dunia hanya milik berdua, katanya. Yang lain ngontrak, bayar 5 juta pertahunnya.

Esau pergi ke kamar mandi. Ia bernyanyi sepanjang waktu dan berpuisi sepanjang langkahnya. Di hatinya hanya ada Layla, wanita yang membuat hidupnya jadi jauh lebih indah.

Ingat cerita soal Jack yang mati kedinginan, lalu tenggelam? Aku kira Esau juga akan mati seperti itu; tenggelam dalam harapannya yang berlebihan.

Ponselku berdering. Dari Layla.

Sayang, malam ini kita ketemuan di kos, ya? Kayak biasa. Esau biar aku yang urus. Adik kamu kan polos, gampang dibegoinnya. Ketemu nanti malam ya sayang, love you :*

Aku menyunggingkan senyum.

Yang berharap berlebihan akan menjadi yang paling pertama kecewa.*

——

*Di kutip dari status Agus Noor

Flasfiction ini ditulis untuk mengikuti program # FF2in1 dari
http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @NulisBuku

Iklan

10 Tahun Setelah Ini — #FF2in1 (sesi satu) Himalaya – Maliq & D’essential

image

Kamu, coba diam dan bayangkan ini.

Sepuluh tahun setelah ini, kamu baru saja melewati pintu rumahmu. Dan aku ada di sana, menunggumu di balik meja berisi makan malam kita.

Ketika itu umur kita sudah duapuluh tujuh. Kita sedang menanti kelahiran sepasang anak kembar yang akan lahir tak lama lagi. Kau, yang percaya bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama hanya akan terjadi saat anakmu lahir ke dunia, mendatangiku. Menciumi perutku yang bundar, menatap dengan tidak sabar.

“Aku ingin segera melihat mereka, dan kelak jatuh cinta,”

Kalimatmu selalu membuatku jatuh cinta. Apapun yang ada ditubuhmu membuatku tergila-gila. Meskipun bagi mereka kau bukan siapa-siapa, bagiku kaulah pria paling istimewa di dunia. Cara pandangmu, cara bicaramu, marahmu, tawamu, semua aku suka.

Mimpiku bukanlah menjadi kekasihmu. Aku ingin menjadi duniamu. Menjadi rumahmu. Tempat kau pulang. Dan demi itu, melompati Himalaya pun akan aku lakukan.

Aku akan membuatmu bahagia. Aku mungkin tidak bisa membuatmu tertawa, tapi aku akan berusaha untuk tidak pernah melukaimu, sedikitpun.

Aku akan jadi masa depanmu. Bukan hanya dalam masa baikmu, tapi juga dalam burukmu. Aku ingin menjadi kekuatanmu… alasanmu untuk tetap menjalani hidup.

Tapi itu masih sepuluh tahun lagi.

Kini cobalah untuk menyibukan diri dengan perempuan lain. Beradu asmara dengan wanita yang bukan aku. Aku mengerti, kau sedang mencoba untuk mencari belahan jiwamu. Maka berpetualanglah. Carilah selama yang kau mau hingga kau sadar bahwa akan selalu ada aku, wanita yang tiap malam menghabiskan waktunya hanya untuk mendoakan hidupmu. Wanita yang berdiri di belakang sana, melebarkan pelukannya, dan menawarimu kasih sayang.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program # FF2in1 dari
http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku”

#FFRABU — Suatu Hari di Laut

image

Suatu hari, hiduplah Zooplankton. Di lautan, dia hidup bersama kawanan sejenis, tapi tidak saling kenal apalagi saling kawin. Zooplankton bukan manusia yang suka kawin sembarangan di hotel murahan. Mereka lebih baik derajatnya.

Zooplankton suka pada Sarden, tapi Sarden benci Zooplankton.

“Kamu tidak berguna,” katanya. “Kerjaannya cuma melayang-layang.”

Sarden suka Paus, dan Paus suka… makan Sarden.

Cinta memang buta. Sarden tetap memilih predator ketimbang Zooplankton yang merelakan hidupnya habis dimakan Sarden.

Sarden bodoh. Tapi Zooplankton tetap suka Sarden

Tamat.

****

Tepuk tangan mengudara dengan enggan.

“Itu karangan kamu?” Tanya guru bahasa.

Pelangi mengangguk. Menatap Sarif—gebetannya, dengan tatapan menyindir.

Bodoh kau!

*****

Pas 100 kata tanpa Judul 🙂

PROMPT #82 – Senandika

Umurku baru sepuluh tahun saat aku bertemu dengan Deeka. Anak perempuan itu cantik, dan sangat baik. Ketika semua teman di kelas menjauhiku dan menganggapku tidak ada, Deeka malah datang dan menawariku gula-gula. Ia juga mengajakku mengobrol soal pohon manisan yang bisa tumbuh subur di atas awan. Ia suka sekali makanan manis, sama sepertiku.

Deeka menyenangkan, dan aku menyukainya. Saat aku sedang sedih atau merasa kesepian, Deeka akan datang dan menghiburku. Kadang membuatku tertawa, kadang malah membuatku naik darah dengan semua kalimat penghancur neutron yang menjadi andalannya. Deeka memiliki cara pikir yang jauh lebih liar dariku. Tak jarang dahiku dibuatnya mengkerut, memberikan tatapan apa-banget-deh-Deeka padanya sambil tertawa geli setiap kali kami berdiskusi.

“Kita harus jadi aneh kalau mau sukses.” Begitu katanya. Aku hanya bisa geleng-geleng di tempat.

Sayangnya, tidak sepertiku yang begitu menyukai Deeka, semua teman-teman di kelas membencinya. Setiap kali aku berbicara dengan Deeka, teman-teman akan memandangiku dengan tatapan aneh, tatapan jijik, dan bahkan tidak jarang menertawaiku. Begitupula dengan orang tuaku. Setiap kali aku mengajak Deeka makan siang bersama kami, Ibu akan marah-marah dan berkata bahwa aku harus makan sendirian. Ibu bahkan pernah memukulku saat aku keukeuh memesan satu meja tambahan untuk Deeka di restoran tempat Ayah mengajak kami makan malam dengan temannya. Aku tidak mengerti mengapa mereka bisa sebenci itu dengan Deeka, padahal ia sangat baik dan menyenangkan. Jangan menilai buku dari sampulnya. Mereka sepertinya lupa dengan pribahasa itu.

“Sudah tidak apa-apa. Jangan menangis.” Deeka tersenyum padaku.

“Ini hari ulang tahunku.”

“Aku tahu. Mangkanya aku bawa lilin.” Dia menunjukan sebatang lilin putih dengan api kecil yang menyala di atasnya.

Ini bulan September. Aku resmi 17 tahun. Tapi Ibu dan Ayah tidak ada di rumah untuk merayakan–eh, tidak.. mereka berdua memang tidak pernah ada di rumah. Mereka terlalu sibuk untuk ada di rumah. Aku bahkan curiga mereka tidak tahu tanggal ulang tahunku.

“Tidak apa-apa. Kan, ada aku.” Deeka berkata lagi. “Cepat tiup lilinya! Tanganku hampir melepuh terkena lelehan lilin!” Lanjutnya dengan tampang marah sekaligus kesakitan. Aku tertawa.

Benar juga. Selama ada Deeka seharusnya aku tidak apa-apa. Memiliki satu orang yang bisa kau percayai seumur hidup akan jauh lebih baik ketimbang dikelilingi seribu orang munafik.

Dalam hati, sebelum meniup lilin, aku sempat berdoa pada Tuhan. Mudah-mudahan kelak kami bisa bahagia. Termasuk Deeka.

“Terima kasih ya, Deeka.”

Bayangan di depan cermin itu tersenyum lebar.

Sama-sama!

****

397 kata, tidak termasuk judul. Flashfiction ini terinspirasi dari salah satu adegan yang ada dalam video klip Red Velvet – Automatic. 😁

image

#FFRABU – DIET

Aku bosan dikatai gendut. Mulai hari ini aku akan diet.

Semalam aku sudah mencatan apa saja yang boleh dan tidak boleh aku makan. Aku juga sudah membuat jadwal olahraga dan belanja buah beserta sayur-sayuran. kali ini, tekadku sudah bulat, aku harus bisa sekurus model pakaian dalam!

Diet itu tidak mudah. Banyak godaan yang datang sepanjang siang, tapi aku dapat dengan mudah menepisnya. Niatku kuat, jadi tidak ada satupun hal yang akan membuatku goyah!

Ya, tidak ada kecuali Martabak isi Nutela pemberian bapak. Makanan itu begitu menggoda, melambay-lambay, lalu meruntuhkan pertahananku begitu saja.

Martabak.. kau resmi membuat dietku berantakan.

Antara Darmono dan Deadline #NulisRandom2015

“Kayaknya gue psikopat, deh.” ujar Darmono, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.

“Kalau gue iyain, lu mau diem enggak?”

Darmono tidak menjawab. Matanya masih sibuk memperhatikan TV yang sedang menyiarkan ciri-ciri seseorang psikopat.

“Tuh kan, benar. Ciri-cirinya gue banget.” Darmono berujar lagi.

Aku memilih mengacuhkan ucapannya. Aku sedang ada deadline hari ini. Kepalaku pusing karena belum ada satupun cerita yang berhasil aku tulis. Semua ide seperti hilang, pecah menjelema debu-debu yang kasat mata, lalu keluar dari kepala. Dan kedatangan Darmono sama sekali tidak membantu.

“Pantas saja waktu ada berita tentang pembunuhan anak-anak reaksi gue biasa saja. Mungkin karena gue psikopat kali, ya?” tanya Darmono lagi sambil berjalan mendekati meja belajarku.

Dia mengambil cuter merah yang biasa aku pakai untuk menyerut pensil dan memain-mainkannya dengan ekspresi sok seram. Dia mengarahkan benda tajam itu ke arahku, matanya melotot.

“Yang gue tahu, psikopat itu enggak pernah ngaku kalau dia psikopat.” Aku membalas dengan wajah datar. “Taruh cuter nya sekarang atau lo gue gampar.” Lanjutku balik melotot. Dia terdiam dan melempar pisau itu ke atas nakas.

“Ya, mungkin aja gue ngaku ke lo karena kita sahabat.” Darmono mengangkat bahunya tidak perduli.

“Ya, terserah. Sudah, pergi keluar sana! Cari mangsa yang bisa kamu bunuh saja, gih. Aku sibuk.” Aku mengusir Darmono dan kembali fokus pada layar Microsoft Word yang kosong melompong. Arghh! Kenapa aku tidak bisa mendapatkan ide sama sekali hari ini?! Otak sialan!

“Lagi malas. Di luar panas.” Balas Darmono lalu tidur-tiduran di lantai. Dia meraih pisau merah itu lagi dan memain-mainkannya di udara.

“Cih, katanya psikopat. Sama panas saja ngeluh.” Aku mencibir.

“Dih, memangnya kenapa? Psikopat itu biasanya baru jalan kalau malam, pas keadaan sepi. Ramai gini males.” Jawabnya lalu memejamkan mata. Diluar memang sedang ramai-ramainya anak komplek ngejar layangan. Aku saja kalau tidak punya hutang tulisan mungkin sudah ada di luar, ikutan sama anak-anak.

“Lu beneran mau jadi psikopat ya, Mon?” Tanyaku bingung.

“Gue sih sebenarnya enggak mau. Tapi ya, gimana.. takdir milih gue jadi psikopat, gue enggak bisa nolak.” Balasnya. Astaga, kenapa aku bisa berteman dengan pria senarsis ini, sih?

“Jadi psikopat itu enggak segampang yang lu kira, Darmono.” Aku geleng-geleng kepala, “Psikopat itu harus biasa kesepian, enggak punya teman, keluarga. Lah elu, ditinggal nyokap sehari aja nangis.”

“Kapan gue nangis?” Darmono teriak tidak terima.

“Psikopat juga harus tahan sama rasa sakit. Menurut lu memangnya kenapa mereka masih bisa hidup meskipun sudah dipukuli habis-habisan, ditusuk, ditendang? Huh?” Aku melanjutkan, “Karena mereka mati rasa, Momon. Mereka udah biasa. Lah, elu? Kamarin kepeleset di jalan aja minta diopname.”

“Dan yang paling penting,” aku memotong Darmono yang ingin membalas, “Psikopat itu harus pintar. IQ mereka harus di atas rata-rata.”

“Maksud lo gue enggak pintar, gitu?” Darmono marah-marah.

“Gue enggak bilang gitu. Lo merasa?” Jawabku, tersenyum mengejek. Darmono menendang kakiku yang tergantung diantara kaki kursi. Mulutnya bergumam kata sialan berkali-kali. Aku tertawa.

“Tapi serius, Darmono. Jadi psikopat itu enggak segampang yang lo pikirkan. Mereka harus memikirkan rencana mereka matang-matang, menghitung segala kemungkinan secara mendetail. Lu enggak bisa gitu aja masuk rumah orang, ngebunuh, motong-motong jarinya, ngeluarin isi perutnya keluar, ngiris-ngiris usus–”

“Heh! Apaan sih ngomongnya? Hueek..” Darmono memasang tampang jijik.

See? Udahlah, lu mah enggak pantes jadi psikopat-psikopat gitu. Mending pikirin soal jenjang karir lo. Belajar sungguh-sungguh biar bisa punya masa depan dan istri yang cerah.” Ujarku, mengangguk yakin.

“Ah, berisik lo.” Darmono bangun dari tempatnya, lalu berjalan keluar.

“Mau ke mana?”

“Pulang. Jam tidur siang, nih.” Jawabnya lalu melambay pergi meninggalkan kamarku. Aku berdecak. Anak jaman sekarang pikirannya aneh-aneh. Pada norak semua.

“Eh, tunggu. Gue juga masuknya anak sekarang juga kan?”

Kecuali kita, lah!

“Oh, yoi. Kecuali kita.” Aku menaik-naikan alisku, lalu mulai fokus pada layar komputer. Hutang masih menunggu.

*****

Darmono masuk ke kamarnya yang luas setelah makan siang. Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Di luar cuacanya masih sepanas saat ia menyambagi rumah tetangganya. Sudah waktunya ia tidur siang, pikirnya.

“Satu jam cukup kayaknya,” Darmono melompat ke atas kasurnya yang super empuk dan lebar.

Tidak butuh waktu lama, anak mamah itu langsung lelap dalam tidurnya. Satu menit, dua menit, tiga menit, Darmono benar-benar sudah menyatu dengan mimpinya. Tidurnya nyenyak sekali. Sangking nyenyaknya, ia sampai tidak sadar saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Ibunya langsung pergi arisan setelah menyiapkannya makan, jadi wanita bertubuh mungil itu pastilah bukan sang ibunda. Pembantunya juga tidak ada, pulang kampung semenjak tiga hari yang lalu.

“Masih ada hutang yang belum aku bayar.” Desis wanita itu, pelan sekali. Senyumnya mengembang saat menatap Darmono yang terlentang dengan mulut penuh liur.

Tap.. tap.. tap..

Langkahnya lembut, tapi pasti. Sepatu berhak pendek itu meninggalkan suara tipis yang menyeramkan. Seperti melodi kesedihan. Darmono masih tidak sadar bahkan saat wanita itu sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Dielusnya dengan sayang wajah Darmono yang mulus tanpa cacat. Mulut darmono menganga, mengeluarkan dengkur halus. Hidungnya yang mancung menarik perhatiannya. Ia gemas sekali dengan hidung Darmono. Ia sempat terpikir untuk menaruh satu bulir beras putih di sana, tepat di lubang hidung Darmono. Pasti lucu! Pikirnya membayangkan Darmono yang tersedak biji beras.

Sayang, ia tidak bisa main-main hari ini. Maka dengan cepat ia mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya. Pisau lipat itu berwarna merah. Warna yang sama dengan drees pendek yang ia pakai sekarang. Ia selalu suka dengan merah. Merah identik dengan darah.

“Mari kita bayar hutangnya,” desis wanita itu, tersenyum.

Ujung pisau yang mengkilat tajam itu ia tempelkan tepat di tengah-tengah kening Darmono, lalu digerakan memutari wajahnya. Melewati pipinya, dagunya, rahangnya, lalu kembali ke atas, seakan-akan sedang membuat garis di atas wajah pulas Darmono.

“Aku suka daging tanpa kulit,” ucapnya, menyeringai. Lalu tanpa ragu-ragu ia mulai memotong–

“TUNGGU DULU!” aku berteriak, lalu berdiri dari kursi.

“CERITA MACAM APA INI?!” lanjutku. Hening. Hanya ada suara angin dan dengung yang aku tahu datang dari CPU komputerku. Layarnya berkedip-kedip samar, memperlihatkan deretan kalimat yang baru setengah aku kerjakan.

“Harusnya dia kasih Darmono obat tidur dulu. Atau tusuk langsung jantungnya. Biar waktu dikulitin Darmono enggak berontak, iya kan?” Aku bertanya-tanya.

Kan, tadi sudah aku bilang!

Aku mencibir. “Tapi kalau diracuni dulu malah enggak serem. Kesannya terlalu mudah,” Aku mendengus sebal, lalu duduk kembali.

Terserah kamu saja, lah. Suruh siapa menulis cerita pembunuhan? Bukan bidangmu juga.

“Semua orang harus berani keluar zona amannya kalau mau menang,” aku berkata sok tahu, lalu tersenyum jumawa. Bayangan di pantulan kaca itu membalasku dengan senyum masam.

Terserah saja.

*****

Sepenggal Cerita di Minggu Sore #NulisRandom2015

Aku bosan.

Kemana teman-teman? Mereka hilang.

Kamu yang hilang.

Kenapa pria ini berubah? Nada suaranya jadi dingin. Seolah enggan berbicara padaku. Seminggu penuh aku telepon, baru kali ini ia bisa angkat, dan dengan terpaksa. Ada apa dengan semua orang?

Aku sibuk. Semua orang sibuk.

Pria ini menutup telepon setelah mengatakan hal tersebut. Kemudian hening. Hanya ada suara angin dan isak yang baru aku sadari ternyata datang dari diri sendiri.

Kalian, yang tidak sengaja datang ke sini, apa pernah seperti ini? Merasa kehilangan orang-orang yang dulu sangat dekat denganmu, tertawa bersamamu? Dulu kau merasa sangat dibutuhkan. Kau di kelilingi banyak orang, sampai akhirnya mereka menjauh, satu persatu. Atau.. apa benar aku yang menjauh?

Mereka tidak pernah pergi, tapi kamu yang bersembunyi. Coba bilang kapan terakhir kali kamu mau diajak pergi? Bukan salahku atau salah teman-temanmu jika mereka menjauh.

Dijauhi orang-orang, aku masih bisa tahan. Tapi pria ini?

“Jangan marah..” suaraku parau. Dari siang aku menangis.

Aku sibuk. Kita bicara lagi nanti.

Dia menutupnya lagi. Bahkan sebelum aku mengucapkan kata maaf. Sungguh aku ingin minta maaf. Pria ini duniaku. Pusat dari segala mimpiku. Aku tidak ingin dia marah, atau pergi, atau mulai tidak perduli. Aku tidak ingin ia menjadi dingin.

Tapi dia tidak menjawab. Mungkin benar-benar sibuk. Atau mungkin teleponnya mati. Aku tidak tahu, aku tidak mau tahu.

Sekelebat bayangan melintas dikepala. Mereka yang pergi biasanya punya teman yang lain. Itu kenapa mereka pergi, karena mereka menemukan seseorang yang lebih baik untuk dijadikan teman. Bagaimana jika itu juga yang terjadi pada priaku? Bagaimana jika ia bertemu wanita yang jauh lebih baik dariku?

Aku bergidik ngeri. Air mataku turun lagi. Membayangkan pria itu merangkul wanita lain, tersenyum dan memperhatikannya membuatku ketakutan.

Mungkin ia benar. Aku yang menjauh, aku yang membuat semua orang pergi. Aku menangis, lagi.

Aku ingin aku yang dulu kembali, Tuhan. Aku ingin diriku yang lama kembali.