PROMPT #82 – Senandika

Umurku baru sepuluh tahun saat aku bertemu dengan Deeka. Anak perempuan itu cantik, dan sangat baik. Ketika semua teman di kelas menjauhiku dan menganggapku tidak ada, Deeka malah datang dan menawariku gula-gula. Ia juga mengajakku mengobrol soal pohon manisan yang bisa tumbuh subur di atas awan. Ia suka sekali makanan manis, sama sepertiku.

Deeka menyenangkan, dan aku menyukainya. Saat aku sedang sedih atau merasa kesepian, Deeka akan datang dan menghiburku. Kadang membuatku tertawa, kadang malah membuatku naik darah dengan semua kalimat penghancur neutron yang menjadi andalannya. Deeka memiliki cara pikir yang jauh lebih liar dariku. Tak jarang dahiku dibuatnya mengkerut, memberikan tatapan apa-banget-deh-Deeka padanya sambil tertawa geli setiap kali kami berdiskusi.

“Kita harus jadi aneh kalau mau sukses.” Begitu katanya. Aku hanya bisa geleng-geleng di tempat.

Sayangnya, tidak sepertiku yang begitu menyukai Deeka, semua teman-teman di kelas membencinya. Setiap kali aku berbicara dengan Deeka, teman-teman akan memandangiku dengan tatapan aneh, tatapan jijik, dan bahkan tidak jarang menertawaiku. Begitupula dengan orang tuaku. Setiap kali aku mengajak Deeka makan siang bersama kami, Ibu akan marah-marah dan berkata bahwa aku harus makan sendirian. Ibu bahkan pernah memukulku saat aku keukeuh memesan satu meja tambahan untuk Deeka di restoran tempat Ayah mengajak kami makan malam dengan temannya. Aku tidak mengerti mengapa mereka bisa sebenci itu dengan Deeka, padahal ia sangat baik dan menyenangkan. Jangan menilai buku dari sampulnya. Mereka sepertinya lupa dengan pribahasa itu.

“Sudah tidak apa-apa. Jangan menangis.” Deeka tersenyum padaku.

“Ini hari ulang tahunku.”

“Aku tahu. Mangkanya aku bawa lilin.” Dia menunjukan sebatang lilin putih dengan api kecil yang menyala di atasnya.

Ini bulan September. Aku resmi 17 tahun. Tapi Ibu dan Ayah tidak ada di rumah untuk merayakan–eh, tidak.. mereka berdua memang tidak pernah ada di rumah. Mereka terlalu sibuk untuk ada di rumah. Aku bahkan curiga mereka tidak tahu tanggal ulang tahunku.

“Tidak apa-apa. Kan, ada aku.” Deeka berkata lagi. “Cepat tiup lilinya! Tanganku hampir melepuh terkena lelehan lilin!” Lanjutnya dengan tampang marah sekaligus kesakitan. Aku tertawa.

Benar juga. Selama ada Deeka seharusnya aku tidak apa-apa. Memiliki satu orang yang bisa kau percayai seumur hidup akan jauh lebih baik ketimbang dikelilingi seribu orang munafik.

Dalam hati, sebelum meniup lilin, aku sempat berdoa pada Tuhan. Mudah-mudahan kelak kami bisa bahagia. Termasuk Deeka.

“Terima kasih ya, Deeka.”

Bayangan di depan cermin itu tersenyum lebar.

Sama-sama!

****

397 kata, tidak termasuk judul. Flashfiction ini terinspirasi dari salah satu adegan yang ada dalam video klip Red Velvet – Automatic. 😁

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s