Antara Darmono dan Deadline #NulisRandom2015

“Kayaknya gue psikopat, deh.” ujar Darmono, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.

“Kalau gue iyain, lu mau diem enggak?”

Darmono tidak menjawab. Matanya masih sibuk memperhatikan TV yang sedang menyiarkan ciri-ciri seseorang psikopat.

“Tuh kan, benar. Ciri-cirinya gue banget.” Darmono berujar lagi.

Aku memilih mengacuhkan ucapannya. Aku sedang ada deadline hari ini. Kepalaku pusing karena belum ada satupun cerita yang berhasil aku tulis. Semua ide seperti hilang, pecah menjelema debu-debu yang kasat mata, lalu keluar dari kepala. Dan kedatangan Darmono sama sekali tidak membantu.

“Pantas saja waktu ada berita tentang pembunuhan anak-anak reaksi gue biasa saja. Mungkin karena gue psikopat kali, ya?” tanya Darmono lagi sambil berjalan mendekati meja belajarku.

Dia mengambil cuter merah yang biasa aku pakai untuk menyerut pensil dan memain-mainkannya dengan ekspresi sok seram. Dia mengarahkan benda tajam itu ke arahku, matanya melotot.

“Yang gue tahu, psikopat itu enggak pernah ngaku kalau dia psikopat.” Aku membalas dengan wajah datar. “Taruh cuter nya sekarang atau lo gue gampar.” Lanjutku balik melotot. Dia terdiam dan melempar pisau itu ke atas nakas.

“Ya, mungkin aja gue ngaku ke lo karena kita sahabat.” Darmono mengangkat bahunya tidak perduli.

“Ya, terserah. Sudah, pergi keluar sana! Cari mangsa yang bisa kamu bunuh saja, gih. Aku sibuk.” Aku mengusir Darmono dan kembali fokus pada layar Microsoft Word yang kosong melompong. Arghh! Kenapa aku tidak bisa mendapatkan ide sama sekali hari ini?! Otak sialan!

“Lagi malas. Di luar panas.” Balas Darmono lalu tidur-tiduran di lantai. Dia meraih pisau merah itu lagi dan memain-mainkannya di udara.

“Cih, katanya psikopat. Sama panas saja ngeluh.” Aku mencibir.

“Dih, memangnya kenapa? Psikopat itu biasanya baru jalan kalau malam, pas keadaan sepi. Ramai gini males.” Jawabnya lalu memejamkan mata. Diluar memang sedang ramai-ramainya anak komplek ngejar layangan. Aku saja kalau tidak punya hutang tulisan mungkin sudah ada di luar, ikutan sama anak-anak.

“Lu beneran mau jadi psikopat ya, Mon?” Tanyaku bingung.

“Gue sih sebenarnya enggak mau. Tapi ya, gimana.. takdir milih gue jadi psikopat, gue enggak bisa nolak.” Balasnya. Astaga, kenapa aku bisa berteman dengan pria senarsis ini, sih?

“Jadi psikopat itu enggak segampang yang lu kira, Darmono.” Aku geleng-geleng kepala, “Psikopat itu harus biasa kesepian, enggak punya teman, keluarga. Lah elu, ditinggal nyokap sehari aja nangis.”

“Kapan gue nangis?” Darmono teriak tidak terima.

“Psikopat juga harus tahan sama rasa sakit. Menurut lu memangnya kenapa mereka masih bisa hidup meskipun sudah dipukuli habis-habisan, ditusuk, ditendang? Huh?” Aku melanjutkan, “Karena mereka mati rasa, Momon. Mereka udah biasa. Lah, elu? Kamarin kepeleset di jalan aja minta diopname.”

“Dan yang paling penting,” aku memotong Darmono yang ingin membalas, “Psikopat itu harus pintar. IQ mereka harus di atas rata-rata.”

“Maksud lo gue enggak pintar, gitu?” Darmono marah-marah.

“Gue enggak bilang gitu. Lo merasa?” Jawabku, tersenyum mengejek. Darmono menendang kakiku yang tergantung diantara kaki kursi. Mulutnya bergumam kata sialan berkali-kali. Aku tertawa.

“Tapi serius, Darmono. Jadi psikopat itu enggak segampang yang lo pikirkan. Mereka harus memikirkan rencana mereka matang-matang, menghitung segala kemungkinan secara mendetail. Lu enggak bisa gitu aja masuk rumah orang, ngebunuh, motong-motong jarinya, ngeluarin isi perutnya keluar, ngiris-ngiris usus–”

“Heh! Apaan sih ngomongnya? Hueek..” Darmono memasang tampang jijik.

See? Udahlah, lu mah enggak pantes jadi psikopat-psikopat gitu. Mending pikirin soal jenjang karir lo. Belajar sungguh-sungguh biar bisa punya masa depan dan istri yang cerah.” Ujarku, mengangguk yakin.

“Ah, berisik lo.” Darmono bangun dari tempatnya, lalu berjalan keluar.

“Mau ke mana?”

“Pulang. Jam tidur siang, nih.” Jawabnya lalu melambay pergi meninggalkan kamarku. Aku berdecak. Anak jaman sekarang pikirannya aneh-aneh. Pada norak semua.

“Eh, tunggu. Gue juga masuknya anak sekarang juga kan?”

Kecuali kita, lah!

“Oh, yoi. Kecuali kita.” Aku menaik-naikan alisku, lalu mulai fokus pada layar komputer. Hutang masih menunggu.

*****

Darmono masuk ke kamarnya yang luas setelah makan siang. Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Di luar cuacanya masih sepanas saat ia menyambagi rumah tetangganya. Sudah waktunya ia tidur siang, pikirnya.

“Satu jam cukup kayaknya,” Darmono melompat ke atas kasurnya yang super empuk dan lebar.

Tidak butuh waktu lama, anak mamah itu langsung lelap dalam tidurnya. Satu menit, dua menit, tiga menit, Darmono benar-benar sudah menyatu dengan mimpinya. Tidurnya nyenyak sekali. Sangking nyenyaknya, ia sampai tidak sadar saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Ibunya langsung pergi arisan setelah menyiapkannya makan, jadi wanita bertubuh mungil itu pastilah bukan sang ibunda. Pembantunya juga tidak ada, pulang kampung semenjak tiga hari yang lalu.

“Masih ada hutang yang belum aku bayar.” Desis wanita itu, pelan sekali. Senyumnya mengembang saat menatap Darmono yang terlentang dengan mulut penuh liur.

Tap.. tap.. tap..

Langkahnya lembut, tapi pasti. Sepatu berhak pendek itu meninggalkan suara tipis yang menyeramkan. Seperti melodi kesedihan. Darmono masih tidak sadar bahkan saat wanita itu sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Dielusnya dengan sayang wajah Darmono yang mulus tanpa cacat. Mulut darmono menganga, mengeluarkan dengkur halus. Hidungnya yang mancung menarik perhatiannya. Ia gemas sekali dengan hidung Darmono. Ia sempat terpikir untuk menaruh satu bulir beras putih di sana, tepat di lubang hidung Darmono. Pasti lucu! Pikirnya membayangkan Darmono yang tersedak biji beras.

Sayang, ia tidak bisa main-main hari ini. Maka dengan cepat ia mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya. Pisau lipat itu berwarna merah. Warna yang sama dengan drees pendek yang ia pakai sekarang. Ia selalu suka dengan merah. Merah identik dengan darah.

“Mari kita bayar hutangnya,” desis wanita itu, tersenyum.

Ujung pisau yang mengkilat tajam itu ia tempelkan tepat di tengah-tengah kening Darmono, lalu digerakan memutari wajahnya. Melewati pipinya, dagunya, rahangnya, lalu kembali ke atas, seakan-akan sedang membuat garis di atas wajah pulas Darmono.

“Aku suka daging tanpa kulit,” ucapnya, menyeringai. Lalu tanpa ragu-ragu ia mulai memotong–

“TUNGGU DULU!” aku berteriak, lalu berdiri dari kursi.

“CERITA MACAM APA INI?!” lanjutku. Hening. Hanya ada suara angin dan dengung yang aku tahu datang dari CPU komputerku. Layarnya berkedip-kedip samar, memperlihatkan deretan kalimat yang baru setengah aku kerjakan.

“Harusnya dia kasih Darmono obat tidur dulu. Atau tusuk langsung jantungnya. Biar waktu dikulitin Darmono enggak berontak, iya kan?” Aku bertanya-tanya.

Kan, tadi sudah aku bilang!

Aku mencibir. “Tapi kalau diracuni dulu malah enggak serem. Kesannya terlalu mudah,” Aku mendengus sebal, lalu duduk kembali.

Terserah kamu saja, lah. Suruh siapa menulis cerita pembunuhan? Bukan bidangmu juga.

“Semua orang harus berani keluar zona amannya kalau mau menang,” aku berkata sok tahu, lalu tersenyum jumawa. Bayangan di pantulan kaca itu membalasku dengan senyum masam.

Terserah saja.

*****

Iklan

2 thoughts on “Antara Darmono dan Deadline #NulisRandom2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s