Erika, Kamu dan Jatuh Cinta Sendirian. #NulisRandom2015 (Day 5)

image

Ada banyak sekali cerita cinta yang aku dengar dari teman. Rata-rata dari mereka bertema tentang cinta diam-diam. Tapi banyak juga yang malah jatuh cinta sendirian. Contohnya, Erika.

Dia temanku semasa SMA. Kami memiliki banyak sekali kesamaan. Salah satunya adalah sama-sama ditolak oleh orang yang kami suka. Bukan ditolak secara langsung, melainkan hanya dijauhi. Berlagak seakan-akan mereka tidak pernah mengenal kami. Bedanya, tidak sepertiku, Erika menemukan cintanya saat ia masih SMP.

Namnya Anjovi. Erika bilang, mereka satu kelas saat ada di tingkat delapan. Anjovi berbadan kurus, tinggi, berkulit cokelat dengan wajah mirip abang-abang tukang gorengan. Oh, oke, yang terakhir itu menurutku. Menurut Erika, Jovi cukup keren untuk dijatuh cintai.

Jika kalian berpikir Anjovi adalah anak gaul super keren yang kerjaannya ikutan eskul basket, akan aku beritahu sesuatu, kalian salah besar. Jovi itu anak cupu, murid yang cukup pintar (menurut Erika) dan merupakan anak baik-baik. Erika sendiri termasuk anak aneh yang kerjaannya merusak suasana dan menyontek PR teman-temannya setiap hari. Sedangkan alasan mengapa Erika bisa jatuh cinta, sesungguhnya masih kami dipertanyakan, bahkan, hingga sekarang.

“Seperti mimpi, kadang cinta enggak butuh alasan khusus kenapa dia bisa datang.” kataku saat kami bertemu.

“Mimpi punya alasan.” Erika tidak setuju.

“Ya, kan, gue bilang kadang.” aku sewot, “Mungkin aja sebenarnya lo punya alasan kenapa bisa sebegitunya sama Jovi, tapi ya gitu.. elo nya enggak sadar.”

“Enggak sadar aja sampai nunggu lima tahun gini, ya? Apalagi sadar.” Erika tiba-tiba melow.

“Errr.. Sebenernya enggak ada yang nyuruh lo nunggu juga sih, Ka.” kataku menertawai Erika. “Itu mah elunya aja yang kepingin nunggu. Orangnya sih udah bahagia sama siapa tau,”

“Sialan.” Erika mengumpat. Melempar potongan kentang goreng yang kami pesan.

Erika bukan sekali ini naksir dengan laki-laki. Dia cukup sering. Sebulan bisa ada dua sampai tiga orang yang ia sukai. Mulai dari kakak kelas, hingga anak muda yang sempat nge-kos di rumah milik orang tuanya. Tapi entah mengapa, mereka semua hanya bertahan sebentar. Anjovi yang paling lama. Lima tahun, dan itu masih berjalan hingga sekarang. Mungkin satu tahun menghabiskan waktu di kelas bersama membuat Erika memahat ingatan khusus tentang Jovi di hatinya.

Padahal mereka tidan pernah benar-benar saling mendelkatkan diri. Semua kenangan yang mereka lalui terdengar biasa saja. Hanya saling ejek, saling berebut buku matematika, saling meminjam ponsel dan sebagainya. Masalahnya, Erika sedang jatuh cinta. Jadi semua hal biasa itu akan menjadi sangat istimewa bagi Erika.

Bahkan sebuah sentuhan biasa saat Anjovi mendorong tangannya agar pergi dari mejanya saja mampu membuat Erika tidak tidur semalaman. Keputusannya untuk memaksa Anjovi agar mau memberikannya contekan matematika ternyata cukup bijaksana. Karena setelah hari itu, Erika akhirnya tahu, tangan Anjovi ternyata terasa cukup hangat di kulitnya yang sawo matang.

“Semenjak hari itu, gue jadi penasaran gimana rasanya kalau kita bisa pegangan tangan sama orang yang kita suka.” Erika mengandai-andai.

“Rasanya pasti bahagia.” Aku membalas. Ikut galau dengan pertanyaan Erika.

“Iya. Pasti bahagia,”

Bagi orang-orang yang jatuh cinta sendirian, hal-hal sederhana bisa menjadi mimpi besar yang rasanya sulit sekali di wujudkan. Seperti tertawa bersama misalnya.

Setiap aku menonton film komedi, dan tertawa, aku selalu terpikir tentang kamu. Tentang bagaimana rasanya menertawai lelucon yang sama, berdampingan, berdua. Sederhana, tapi sulit diwujudkan.

Begitu juga dengan Erika. Setiap kali ia melihat sepasang anak muda yang sedang traveling bersama, ia akan mengandai-andai bahwa itu adalah mereka; Ia dan cinta pertamanya. Saling menjaga dan berpetualang bersama. Tertawa dan memaki hal yang sama. Namun, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, bagi kami, itu adalah mimpi paling sulit di dunia.

*****

Berhati-hatilah dengan temanmu yang mengamuk. Karena terkadang, kamu bisa mati di tangan teman terdekatmu.

Erika mengerti betul istilah itu saat temannya secara tidak sadar membuat Anjovi mulai menjaga jarak.

Saat itu mereka berdua sedang bertengkar. Tentang apa, aku lupa keseluruhan ceritanya. Yang pasti mereka berdua sedang dalam perang dingin saat petaka itu mulai terjadi.

“Jodi, ada sesuatu yang mau gue kasih tahu.” Teman sebangkunya membalikan badan, menghadap Anjovi yang duduk di belakangnya.

“Apaan?” tanya Anjovi.

Teman sebangkunya melirik Erika, “Ada yang suka sama lo,”

Sontak Erika menengok. Menatap kaget pada tindakan temannya.

“Siapa?”

“Erika.”

Hening sesaat. Mereka saling berpandangan. Erika shok, tentu saja. Sedangkan Anjovi menatapnya dalam diam. Melihat kecanggungan itu, tiba-tiba saja teman sebangku Erika meralat, meraih tindakan cepat atas tindakan cerobohnya.

“Tapi bohong, deh. Hahaha.. Bercanda, kok.” katanya, mencoba mencairkan.

Jodi mengkerutkan dahinya dalam, “Aneh..” katanya, acuh.

Semenjak itu mereka jadi sedikit lebih jauh. Terlebih saat keduanya masuk kelas yang berbeda saat naik ke tingkat sembilan. Dan makin jauh semenjak lulus dari sana.

“Bodohnya adalah, gue sempet ngaku kalau gue suka sama dia. Di Facebook.” Erika menghela nafas panjang, “Diread sama dia, tapi enggak pernah dibalas.”

Setidaknya Erika sempat menyatakan cintanya. Setidaknya aku tahu bahwa temanku ini ternyata lebih berani dibandingkan dengan diriku yang super pengecut ini.

“Gue juga sempet kirim pesan ke dia lewat Facebook. Nanya dia naik kelas atau enggak. Lo tahu apa balesannya?”

“Enggak. Apa?” Erika bertanya,

“Tiga biji tanda tanya dan kalimat ‘Aneh lu’. Gila sakit enggak tuh,”

Erika menertawaiku. “Jahat banget,”

“Iya. Tapi gue suka dijahatin dia.”

“Dasar sarap.” balas Erika dengan sepenuh hati.

Aku sendiri tidak pernah sekalipun mengakui perasaanku. Tapi aku tahu, kamu tahu soal itu. Kamu orang yang sensitif. Kamu pasti sadar tingkah bodohku setiap kita berdekatan pastilah berarti sesuatu.

Aku pernah menyapamu lewat whatsapp hanya untuk berkata apa kabar. Aku juga pernah membuat satu akun palsu di twitter hanya agar bisa mengirimkanmu foto-foto lucu. Aku melakukan itu semua karena aku ingin berbincang denganmu. Hanya itu.

“Kenapa orang yang kita suka, enggak pernah suka sama kita, ya?” Erika bertanya sambil membereskan barang bawaannya. Kami sudah hampir satu jam duduk di foodcourt ini.

“Apa karena kita enggak secantik orang-orang?” lanjutnya, melirik sekumpulan perempuan berseragam SMA yang duduk tepat di sebelah kami.

“Mungkin. Tapi mungkin juga karena kita enggak jodoh sama mereka.” jawabku.

“Tahu dari mana mereka bukan jodoh kita?” tanya Erika, sangsi.

“Err.. Enggak tahu juga sih, gue mikirnya gitu aja biar bisa move on.” aku nyengir.

“Hidup kadang enggak adil, ya?” katanya lalu pergi duluan meninggalkan meja.

Aku juga pernah berpikiran seperti itu. Rasanya tidak adil jika cinta hanya datang dari fisik saja. Cinta juga seharusnya bisa datang dari perasaan tulus yang kita punya untuk mereka.

Saat tahu kamu juga sedang menunggu seseorang yang membuatmu jatuh hati, aku sempat mengumpat. Mengapa dia tidak coba untuk membalikan badan sekali saja? Mencoba melirik perasaanku barang sebentar? Aku merutuki itu semua sampai akhirnya aku sadar, jauh di sana, kamu juga pastilah memikirkan hal yang sama.

Kamu juga pasti berpikir mengapa bukan kamu yang diberi kesempatan untuk menjaganya? Kenapa bukan kamu saja yang menghujaninya dengan perasaan cinta? Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi kamu memilih untuk bertahan dengan caramu sendiri. Mencintainya dengan tulus tanpa mengharapkan apapun dari jauh.

Semenjak itu, aku tahu, mungkin seperti itulah seharusnya aku menyukaimu. Tidak mengharapkan balasan apapun.

Sebuah kalimat dari akun media sosialmu membuatku sadar. Tidak ada satupun orang yang bisa melarang kita untuk jatuh cinta. Dan begitupun sebaliknya.

Karena akhirnya, aku tahu. Akan selalu ada hati yang tidak akan pernah bisa kita balik.

*****

Bogor, 5 Juni 2015.

Iklan

2 thoughts on “Erika, Kamu dan Jatuh Cinta Sendirian. #NulisRandom2015 (Day 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s