SOSIAL TIGA

Ini cerpen yang sempat dibuat untuk teman-teman sekelas saya semasa SMA. :’)

SOSIAL TIGA

Segaris angin dingin datang, menerpa wajah sesaat setelah aku keluar dari ruang ujian. Angin itu terasa begitu segar dan menyejukan saat menyelundup masuk ke otak yang terbakar karena terlalu keras berperang melawan soal Ekonomi.

Dalam hati aku merutuki siapapun yang membuat soal terkutuk itu dan bersumpah akan membakarnya hidup-hidup jika sampai kami bertemu. Jadi orang kok iseng banget bikin soal susah-susah. Dia gak tau apa standarisasi otak anak SMA? Ah, mau muntah rasanya mengingat soal-soal tadi. Dari Empat puluh soal, hanya separuh yang berhasil aku kerjakan. Itu pun belum tentu benar. Yang lain? Aku hanya mengandalkan peruntungan; menghitung kancing atau memilih jawaban yang terlihat paling bersinar dibanding yang lain. Jenius sekali memang. Aku benci diriku sendiri.

Beberapa orang mulai keluar dari ruang ujian. Sebagian dari mereka terlihat santai sambil berbincang-bincang dengan orang yang ada di sampingnya. Sebahagian lagi terlihat sama sepertiku; depresi, kesal, dan menyesal. Makin lama kerumunan itu makin ramai. Terlihat Santi, Irfan dan Segi sedang sibuk memainkan ponsel pintarnya. Ada juga Andisa yang, seperti biasa, mengeluarkan tampang horor di samping kekasihnya, Faisal. Dan jauh dibsana terlihat Mega, Rita, Mela beserta yang lainnya sedang asik bertukar cerita. Mereka semua itu adalah orang-orang yang sudah menenaniku hampir selama dua tahun ini di kelas sosial tiga, yang baru aku sadari, ternyata akan langsung terpecah hanya dalam hitungan minggu.

Jantungku berdegup dalam satu tarikan napas. Ini hari terakhir Ujian. Ini hari terakhir aku berjuang untuk keluar dari sekolah, dan akan benar-benar melepas seragamku dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Aku akan lulus SMA.
Tidak bisa dipercaya. Rasanya baru kemarin aku masuk dan merutuki gedung ini. Aku bahkan masih bisa merasakan setakut apa aku ketika melihat orang-orang yang berkumpul di lapangan dengan tatapan kurang bersahabat. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku saat itu, mulai dari seperti apa teman-teman sekelasku nanti, sampai ke enak atau tidaknya jajanan di kantin ini.

Aku ingat bagaimana aku membenci kelas pertamaku di SMA. Semalas apa aku berangkat ke sekolah, bagaimana sikaplu di kelas, dan sebenci apa aku karena harus ada di SMA. Waktu itu aku benar-benar merutuki orang-orang yang berkata bahwa masa putih-abu adalah masa-masa paling indah. Waktu itu aku berpikir bahwa orang-orang itu sok tahu. Tak ada satupun moment yang berharga sejauh ini. Semuanya berjalan biasa saja bahkan cenderung membosankan. Dan aku sempat berpikir itu akan terjadi sampai hari kelulusan datang.

Aku juga ingat saat-saat di mana aku mulai masuk ke kelas ini dan menarik semua perkataanku. Semua gambaran kelas yang mengerikan pecah begitu saja, hilang entah kemana. Kelas ini berbeda dengan kelas sebelumnya. Di sini aku bertemu dengan mereka-mereka yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Aku naif jika menyebut kelas ini tidak berkubu. Mereka berkubu. Hanya saja, mereka tahu betul bagaimana caranya berbaur dan menghargai yang lain.

Aku ingat kasus pertama yang muncul di kelas. Itu adalah saat Herlina, salah satu teman kita, mengadu kepada wali kelas karena ia merasa tidak ditemani. Waktu itu aku, Andisa, dan Segi di panggil Ibu Lela ke gedung dua guna membicarakan hal tersebut. Aku kurang mengerti kenapa aku yang di panggil karena aku merasa tidak pernah punya masalah dengan Herlina. Bu Lela bilang, kami di panggil karena katanya kami yang paling netral.

“Nah, coba kalian bantu Herlina. Temenin, jangan dibeda-bedain. Dia juga kan teman kalian.” pinta Bu Lela dengan wajah teduh.

“Kita gak beda-bedain kok, bu. Dianya aja gak mau berbaur.” balas Raka penuh semangat. Pria tomboy maksimal itu muncul saat kami sudah sampai di gedung dua. Dia bilang dia juga ikut dipanggil tadi. Aku kurang percaya, dia pasti hanya ingin ikut-ikutan. Tak apa lah, ibu-ibu PKK memang begitu, hobby sekali ikut campur urusan orang. Aku memaklumi.

Bu Lela juga cerita bahwa Herlina sering mengirimkan pesan singkat berisi curhatannya, dan kadang-kadang SMS mama minta pulsa. (Haha.. oke yang itu bercanda).

“Ibu takut, nanti lama-lama dia malah kayak Irna.”

“Lah? Memangnya Irna kenapa?”

“Iya, Irna itu parah banget pendiamnya. Masa kata orang tuanya, dia itu di rumah kalau ngobrol lewat SMS. Padahal masih satu rumah,”

Semuanya sontak tertawa. Oh, kalau itu aku tahu, dan memang benar. Aku juga cukup sering dikirimi sms oleh Irna di angkot. Tapi itu kami lakukan hanya untuk membicarakan orang yang kebetulan duduk di dekat kami. Kan, enggak enak kalau ngomongin depan orangnya langsung. Mangkanya kami SMSan dalam angkot, biar gak kesinggung orangnya. Haha..

“Coba kalian diskusikan di kelas, ya.” kami semua mengangguk, mengiyakan.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak. Raka membuka rapat kelas dadakan yang berakhir dengan ricuh. Anak laki-laki yang ketika itu sedang asik main di belakang menolak untuk mendengarkan karena dianggap kurang penting. Mengetahui itu Raka marah dan berkicau seperti perempuan. Sialnya, saat itu aku juga sempat buka suara. Hebat sekali, Herlina. Kau berhasil membuat ku merasa seperti Drama Queen siang itu. Terimakasih banyak, loh. Serius.

Satu hal yang rasanya tidak pernah aku ingat adalah alasan mengapa aku mulai bicara dengan Andisa. Yang aku ingat hanyalah fakta bahwa perempuan itu adalah teman debat dan diskusi paling asik yang pernah saya punya. Dia juga teman main plesetan paling absurd di dunia. Rasanya ada saja yang bisa kami bicarakan. Mulai dari obrolan sampah (tentang pemerintahan, politik, sistem pendidikan di negeri ini dan alasan-alasan mengapa Ujian harus di tiadakan secepat mungkin) sampai ke obrolan yang benar-benar sampah sepert misteri tiang berwarna hijau yang berdiri di depan gedung SMAKBO. (Apakah tiang tersebut sebenarnya adalah Autobot yang sedang menyama?)

Kami juga sering membicarakan guru diam-diam. Istilahnya, berdosa bersama. Andisa yang memang pada dasarnya punya sifat kritis dan gak mau rugi, selalu saja mengkritik cara guru mengajar. Dan kalian tahu siapa guru favoritnya? Benar, Ibu Isna.

“Kita harus berterimakasi sama ibu isna, loh yu! Berkat dia itu, kita bisa melatih kesabaran.” katanya beberapa hari yang lalu. Aku mengiyakan.

“Iya, berkat beliau juga kita bisa belajar mandiri; belajar sendiri, ngerjain soal sendiri, dan di koreksi sendiri. Masukin nilai ke absennya juga sendiri, kan? Berjasa sekali beliau itu.”

Kami memang sarkastik. Betewe, tepuk tangan buat Bu Isna—nya manaaahh???? You should feel sory for this women, bung. Hehe..

Meja Andisa bertetangga dengan meja yang aku duduki. Disebelahnya ada Melania, yang sumpah, saat pertama kali dengar namanya, hal yang muncul di otak adalah nama rumah sakit bersalin Ibu dan Anak yang ada di Jalan Bondongan. Sempet kepikiran, apa mungkin itu punya keluarganya Mela, ya? Atau mungkin, jangan-jangan Mela itu sebenarnya adalah cucu dari pemilik RS yang tertukar? Oh, oke. Ini mulai ngaco.

Tapi Melania ini keren loh menurut ku. Dia itu, istilahnya apa ya? Sosialis. Di satu sisi dia humble dan terbuka sama semua orang. Di sisi lain dia selalu  bisa membentengi masalah pribadinya. Dia juga ceria dan sedikit gila. Satu hal yang aku tidak suka dari Mela: Dia suka sekali berbicara dengan logat yang aneh. Seperti logat anak kecil kerasukan hantu gulali. Untuk Mela, jika kamu membaca ini sekarang, saya harap kamu bisa sadar dan kembali kejalan yang lurus. Amin.

Beda Mela, beda lagi Mega. Dia justru orang yang terlalu suka curhat kemana-mana. Dan untuk playgirl semacam dia, ini jelas merugikan dirinya sendiri. Dia seharusnya lebih waspada dan hati-hati pada siapapun jika ia ingin selamat dari pacar-pacarnya yang kalau di kumpulkan bersama mungkin bisa lebih dari sekelas. Kadang bingung juga kenapa Mega mau pacaran sama banyak orang. Bukan apa, tapi bukannya kalau kebanyakan jatuh cinta bisa bikin kita kebanyakan patah hati? Yaaa.. tapi itu hidup dia kan? Jadi biarkanlah dia hidup dengan caranya. Doakan saja mudah-mudahan someday dia bisa bertemu pria yang benar-benar bisa membuatnya jatuh cinta sampai rela berhenti jadi playgirl. Amin? Di Aminin!

Mega juga punya dua mantan pacar di kelas. Ada Rhedy dan juga Fajri yang kadang dipanggil Dogol. Entah apa alasannya ia di panggil Dogol, saya sendiri kurang tahu. Fajri ini tipe anak gaul jaman sekarang yang kalo foto-foto kepalanya pasti lebih maju dari badannya terus giginya di geretakin kayak orang marah mau periksa gigi. Gitu lah..

Kalau Rhedy ini tipe caper menurutku. Cari perhatian. Dan dia mencintai dunia binatang. Saya ingat hari dimana ia membawa binatang peliharaannya berupa ular dan sepasang musang-yang-ternyata-bukan-musang ke sekolah. Kedua binatang tersebut langsung jadi primadona di kelas dan dimainkan hampir oleh semua orang, kecuali aku tentunya. Bukan takut, memang lagi enggak mau ketemu saudara lama saja.

Oh, ya Rhedy juga punya Isteri di kelas. Namanya Raka. Ingat? Ibu-ibu PKK yang tadi ikut nimbrung di atas? Nah, dia itu isteri sirihnya Rhedy. Dan selayaknya pernikahan sirih lainnya, Rhedy juga tidak pernah mengakui pernikahan tersebut. (Pukpuk Rakka ./T^T)
Eh, tapi Rakka itu bukan bencong loh.. Raka itu macho! Seenggaknya, di banding semua perempuan di kelas, dia adalah yang termacho kedua setelah Segi. (Shiihhtt, i can’t stop being sarcasm -.-)

Iya, saya tahu. Setelah membaca ini Raka pasti akan langsung merasa di nodai. Kemacho-an-nya bahkan di kalahan oleh anak perempuan. Dia pasti terluka. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya, aku tidak mengada-ada. Raka ini pintar masak dan ahli menggunakan make up. Saat kelas Sosial Tiga mengadakan kumpul-kumpul di rumahnya, Raka, lah yang paling aktif memasak dan menyiapkan semuanya. Saat praktek dramapun hampir semua anggota ia dandani. Ia sendiri berdandan ala perempuan dewasa jaman kerajaan, legkap dengan make up tebal yang ia pakai sendiri.

Diambah lagi, Segi memang terlalu Macho untuk di bandingkan dengan Raka. Dulu, sangking machonya, ia sempat memotong rambutnya dengan potongan yang extrem. Itu katanya. Aku sendiri kurang percaya. Pasalnya, saat bertemu segi di kelas sebelas, ia terlihat seperti anak perempuan normal lainnya yang suka dandan cantik. Walaupun memang ia masih suka menggunakan aksesoris tomboy seperti Topi dan Jaket kebesaran, tapi tetap saja dia terlihat sangat perempuan. Penasaran, akhirnya aku menanyakan hal tersebut langsung pada Segi.

“Bener kok, yu. Dulu Egi pernah di skin rambutnya pake alat cukur buat kumis!” katanya, aku mengibaskan tangan ku tak percaya.

“Gak mungkin, ah!”

“Nih, kalau gak percaya!” balas Segi sambil memperlihatkan sebuah foto padaku. Itu foto seorang wanita berkulit cokelat yang sedang tiduran sambil memperlihatkan potongan rambutnya dari arah kanan. What the—

“Ini elu? kok jelek sih.” tanyaku sedikit kaget. Yang aku ingat Segi tertawa setelah itu. Ternyata, musik metal bisa mempengaruhi kejiwaan seseorang.

Tetapi, semetal apapun jiwa seorang perempuan, ingat lah, dia tetap seorang perempuan. Walaupun Segi itu macho, dia tetep bisa nangis. Aku ingat pertama kali melihat Segi menangis di sebuah siang saat kami masih duduk di kelas sebelas. Waktu itu pelajaran Bahasa Inggris sedang berlangsung dan Miss Riga memergoki Segi yang bukannya mendengarkan, tapi malah ngobrol dengan bapak beruang madu kita, Irandi, di belakang. Ia akhirnya di suruh menjelaskan di depan kelas sebagai hukumannya. Entah karena malu atau sakit hati oleh perkataan Miss Riga, tapi Segi langsung menangis saat pelajaran tersebut selesai.

Segi juga pernah menangis saat kami ada di kelas dua belas. Kalau yang ini sih karena anak-anak di kelas susah sekali di tagih uang Kas. Mungkin Segi kesal, mangkanya dia menangis.

Melihat temannya menangis, Selly jelas langsung tidak terima. Segi yang kesal, tapi Selly yang malah semangat marah-marah. Aku beri tahu sesuatu, Selly ini kalau ngomong suka enggak nyelow. Berasa ada speaker nempel di kuping. Berisik.

Tapi gini-gini dia baik. Buktinya gak jarang Selly mau diutangin pulsa sama anak-anak di kelas. Tukang pulsa ini memang pengertian sama kantong teman-temannya. Sayang, kebaikan perempuan tersebut rupanya kurang menarik perhatian sang pria idaman bernama Heri. Selly, kamu harus sabar! Ingatlah, masih banyak ikan berbehel di lautan.

Selain Selly, masih ada nona majalah sophie marteen yang berisiknya lebih-lebih dari speaker masjid. Namanya Siska. Dia ini tukang jual baju dan tas di sekolah. Semua perempuan di kelas pasti ambil barang dari siska, kecuali saya. Iya benar, faktor dompet.

Terus juga ada Santi yang makin kesini suaranya makin tidak terkendali. Entah faktor pergaulan atau gimana, tapi ibu rempong yang satu ini juga jadi makin berisik. Saya ingat pertama kali ngobrol sama Ibu ini di kelas sebelas. Waktu itu kita ngobrolin tentang Restoran Sushi milik aktor sinetron kesayangannya. Dia juga jago masak dan punya jiwa ke ibuan yang kentara sekali. Kalo ngomong suka rempong, Em? Kayak ibu-ibu arisan yang suka gosip sama tetangga sebelah. Nah, tetangga sebelahnya itu gue.

Selain mereka, masih ada Anisa yang paling terlihat normal dan Rita yang kalau di ajak ngobrol suka bikin kita ngelus-ngelus dada nahan sabar. Ada Faishal yang hobby nya berantem sama pacarnya, Andisa. Ada Ikyu yang Pidosaeun. Dan masih banyak lagi.

Dan semua itu berputar begitu saja seperti adegan film tua yañg menyenangkan.

“Ayu! Kebawah gak?” suara Irna membangunkanku dari potongan ingatan yang tiba-tiba menyeruak masuk. Aku lihat semua orang turun ke lantai dasar. Aku mengangguk, mengikuti.

Sayup-sayup terdengar riuh-rendah suara semua orang. Suara-suara itu menguap dibakar panas matahari yang kemudian berubah menjadi daun-daun kering berisi potongan ingatan yang lain. Daun-daun itu berserakan memenuhi otak, begitu banyak dan berebut minta diceritakan.

Tapi yang paling menarik perhatian justru hanyalah sebuah percakapan konyol di kelas, celetukan-celetukan menggelikan yang dilempar saat guru sedang menjelaskan, dan ekspresi horor mereka yang takut sepatu balletnya di ambil oleh Pak Rusli.

Ingatan sederhana mengenai sekolah. Tapi justru yang paling sederhana itu lah yang paling berkesan.

Aku melangkah menuruni tangga saat kenangan-kenangan itu berputar. Tersenyum sambil menikmati filim kecil yang di suguhkan atmosfer. Dalam hati aku mengakui, mungkin kemarin kita mencaci gedung ini, mungkin kemarin kita menghujat para guru dengan semua metode mengajarnya yang membosankan, dan merasa malu atas nama sekolah. Tapi nanti, saat rambut kita tak sepenuhnya hitam, saat umur bukan lagi dalam hitungan belas, kita akan berdoa, meminta sesuatu yang tak akan pernah mungkin dikabulkan:

“Tuhan, aku ingin kembali ke sana.”

*****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s