Perindu Kesatria

Selamat malam, lembaran putih tanpa aksara beraroma fanila. Ini aku lagi,  Puan kasihan yang hampir mati karena merindu. Maaf karena terus menerus menghujanimu dengan ribuan kata duka yang mengandung pilu. Maaf juga karena selalu mengadu. Sungguh, aku harap kamu tidak akan pernah bosan dengan itu.

Buku harian tercinta bersampul biru, ibu bilang akhir-akhir ini aku kerap terlihat seperti orang sakit; wajahku pucat,  mataku sendu dan bobot tubuhku kian menyusut. Melihat wajah ibu yang khawatir membuatku yakin, keadaanku pastila tak akan lebih baik dari seekor mayat hidup yang baru bangkit dari kubur. Ibu juga bilang, beliau akan membawaku ke dokter besok guna memastikan sakit apakah aku gerangan. Sesungguhnya aku ingin menolak. Apa daya, perintah ibu adalah mandat ratu yang tak akan pernah bisa ditolak rakyatnya.

Jika saja Ibu tahu, aku begini bukan karena sakit, melainkan karena pria itu. Kau mengenalnya, kan? Pria tinggi yang memiliki mata sehangat senja? Yang ranum senyumnya seperti gula-gula? Iya, aku begini karenanya—kesatria gagah yang menjauh hanya karena sebuah pertengkaran di bawah purnama.

Kau tahu? Semenjak ia pergi, entah mengapa tidurku tak pernah lagi bisa senyenyak malam. Makanku tak lagi senikmat dulu. Dan tawaku terasa hambar juga kaku. Yang ada di otakku hanyalah pria itu. Tak ada yang lain, hanya pria itu.

Iya, iya, kau benar. Aku memang terlihat sangat cengeng dengan semua jabaran yang aku tulis di atas. Tapi, hei.. bukan salahku jika aku begitu mencintai pria ini. Siapa pula yang tahan untuk tidak jatuh cinta pada kesatria yang selalu melindunginya? Yang selalu ada untuknya?

Biar aku beritahu kamu sesuatu, wahai teman paling setia di dunia. Kesatriaku itu, meskipun terlihat dingin dan sedikit formal, sesungguhnya adalah pria paling hangat dan paling sederhana di dunia. Ia sangat terbuka dan ramah pada siapapun yang ia kenal. Jiwanya tenang dan ia sangat loyal. Kesatriaku tidak akan pernah segan untuk menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri.

Dan kau tahu apa yang paling membuatku kecanduan akan kehadirannya? Benar, perhatiannya.

Aku pikir semua wanita di dunia pasti setuju jika aku bilang bahwa satu-satunya hal yang di butuhkan wanita hanyalah perhatian. Dan itulah yang kesatriaku berikan setiap harinya. Ia tak pernah keberatan untuk bertanya ada apa dan memelukku erat ketika aku sedang bersedih.

Kesatriaku tahu aku menyukai bunga, itu mengapa ia selalu mengirimkan aku bunga dengan berbagai macam jenis setiap tanggal duapuluh dua. Ia juga yang akan datang menyemangatiku ketika sakit tak sengaja berkunjung dan dengan senang hati membagi perhatiannya pada ku. Pria ini telah menjadikan aku sebagai pusat dari dunianya, dan bukanlah hal yang egois jika aku begitu jatuh cinta pada sosoknya.

Berbicara soal cinta, jika kau penasaran, itu pula yang menjadi alasan mengapa ia pergi meninggalkan aku untuk jangka waktu yang lama.

Lucu bukan? Alasan ia pergi meninggalkan aku hanya karena sebuah perasaan normal yang justru ia sendiri yang memunculkannya. Entah mengapa, Kesatriaku itu benci sekali jika aku membicarakan perihal cinta dengannya. Menurutnya itu terlalu tabu bagi kami. Ia bilang, kami tak mungkin saling mencintai. Selain karena ia sudah memiliki Widuri, pun juga karena kami adalah saudara sepupu.

Iya kau benar, kesatriaku memang naif. Dia mungkin tak pernah mendengar bahwa  saudara sepupu selalu bisa menikah. Entahlah. Ia mungkin tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Aku tak perduli. Selama aku masih bisa menjadi salah satu prioritas dalam hidupnya, aku tidak akan pernah keberatan.

Karena bagiku, cinta bukan hanya soal status siapa aku dan ada di mana posisiku. Cinta adalah bagaimana seseorang menyayangimu dan menjagamu dengan segala kemampuan yang ia punya. Bagaimana ia berusaha membuatmu terus merasa berharga, dan tentang bagaimana ia memperlakukanmu dengan sangat lembut seakan-akan engkaulah dunia paling berharga yang ia punya.

Itu sebabnya aku tidak pernah mempermasalahkan statusku di depannya. Aku mungkin bukan kekasih yang akan ia nikahi suatu hari nanti. Bukan juga seorang adik perempuan yang akan ia manjakan di rumah apalagi sahabat karibnya. Bukan, aku bukan mereka baginya. Meskipun begitu, aku tahu ia akan selalu ada di sana untuk terus tersenyum padaku.  Ia akan terus ada untuk membagi peluk dan menghangatkanku dengan bias senja dari matanya. Pria itu akan selalu berdiri di sana, menyemangatiku dengan puluhan kata sayang yang ia suntikan melalui kecupan, dan melindungiku dari segala macam kesedihan menggunakan perisai yang ku kenali sebagai punggunya.

Dan itu semua bukan karena aku adalah cintanya, melainkan karena aku adalah aku dalam hidupnya: Seorang puan yang terlahir sebagai satu dari hembusan napas sang kesatria.

*****

Bogor, 24 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s