Percakapan di Ujung Malam

Malam belum habis, tapi pria itu sudah berdiri dengan setia di depan pintu. Ia menyuguhkan tatapan tajam namun hangat saat aku membukakan pintu untuknya. Seperti marah, namun khawatir. Kulihat ia menghela nafas panjang,

“Sedang apa disini? Ayo pulang!” ujar pria itu sambil menarik tanganku keluar. Aku menepisnya dengan halus,

“Akanku ceritakan nanti, masuklah dulu.” balasku melempar senyum, mempersilahkan pria itu masuk, kemudian berlenggang pergi menuju dapur.

“Silahkan..”  aku menaruh segelas teh hangat dan sepiring baby carrot segar di meja yang sengaja aku beli sore ini. Itu kudapan favoritnya sejak dulu sekali. Menurutnya tak pernah ada kudapan sesegar dan sesehat wortel oranye kesukaannya. Mungkin itu alasan mengapa kedua mata miliknya terlihat jernih dan bersinar. Berbeda sekali dengan sepasang mata kepunyaan ku yang muram dan siap dibingkai jika saja kedua orang tua ku tidak melarang anaknya menggunakan kacamata.

Ah, orang tua.. berat benar kata itu sampai-sampai hati rasanya siap membuka sumber air di pelupuk mata. Aku yakin pria itu pasti melihat genangan yang tiba-tiba muncul kepermukaan. terlihat dari gelagatnya yang terus saja mengusap seluruh wajahnya yang terlihat kesal.

“Sebenarnya ada apa lagi?” tanya pria itu akhirnya. Ia terdengar lebih frustasi lagi sekarang.

“Biasa. Hanya masalah kecil yang lagi-lagi keluar.” jawabku mencoba tersenyum. Terlihat samar-samar genangan air di mata makin penuh.

“Kalau begitu pulang lah. Jangan jadi pengecut dan bersembunyi di sini.”

“Bukan bersembunyi. Hanya mencari tempat untuk berpikir.”

“Kau bisa melakukan itu di rumah kan? Di kamar mu?”  aku hanya menggeleng lemah. Rasanya sulit menjawab pertanyaan mudah saat hati sedang merana.

“Berhentilah menjadi anak kecil dan pulang lah. Mereka pasti sedang mencari mu.” nada bicaranya melembut, selembut angin malam yang malu-malu masuk melalui sela-sela jendela.

Kulihat mata tajamnya membulat, mirip sepasang mata kucing yang sedang memohon.

“Kenapa harus senaif ini, sih? Mereka tidak akan mencariku, kau tahu itu. Lagipula bukan ini alasan aku memintamu kemari.” tandasku, mengingatkan sepotong pesan yang aku kirim lewat sms beberapa jam yang lalu.
Aku kemudian melanjutkan, “Aku hanya ingin menenangkan pikiranku di sini. Dan aku butuh bantuanmu untuk itu. Aku mohon, berhentilah bersikap seakan-akan mereka perduli. Aku anak mereka, aku tahu bagaimana mereka lebih dari yang kau tahu!”

Air itu akhirnya meluncur juga. Mereka jatuh dengan terburu-buru, menapaki lekuk wajah sederhana ini, membelai pipi dan dagu, terus menerus tanpa henti. Hati rupanya sedang dilanda musim penghujan terparah, dan ini membuatku ragu, musim panas mungkin saja akan kehilangan lapaknya di daratan hati.

Sebuah dekapan datang tiba-tiba. Menyebarkan aroma tubuh yang menyeruak masuk kehidung, membawa badai yang makin parah. Aku tahu, tangisan ini tak akan berhenti sekalipun pagi menegur. Pria itu mengelus lembut punggungku, mengecup ubun-ubunku. Aku makin terisak.

Di saat yang bersamaan, ingatan kembali memutar filmnya. Potongan-potongan kejadian yang ingin dilupakan kembali bermunculan, berebut ingin diperhatikan. Akhirnya aku terpaku pada salah satunya. Sebuah kejadian yang terjadi kemarin malam; perdebatan, makian, tangisan, semuanya melebur disana. Terlihat wajah ayah dan ibu yang memerah, menuangkan kalimat sederhana yang menyakitkan. Kalimat yang bukan berisi binatang, namun lebih perih dari bekas gigitan anjing yang disiram cuka.

Pernah mendengar kalimat Ucapan adalah doa? Bagiku, perkataan mereka lebih dari itu. Ucapan mereka adalah vonis hidup di masa depan. Dan kemarin, mereka telah memvonisku mati dalam mimpi. 

Aku menemukan diriku sudah berbalut selimut tebal di dalam pelukan pria itu saat jam berdentang dua kali. Kulihat ia juga tertidur, sama sepertiku. Terdengar dengkuran lembut keluar dari hidungnya, memecah malam yang hampir habis. Sepasang lengannya melingkar, menenggelamkanku ke dalam tubuhnya. Perasaan hangat tiba-tiba mencairkan hati. Aku membalas dekapan pria itu lebih erat, enggan melepaskan perasaan tenang yang kucari sedari kemarin. Perasaan aman yang hanya bisa aku dapatkan darinya. Perasaan yang membuatku menginginkan pria ini, yang membuat kulupa akan batas-batas yang menghalangi kami.

“Aku mencintaimu,”

“Aku lebih mencintaimu..”

“Ini berbeda, aku-..”

“Tak ada bedanya. Percayalah. Aku mencintaimu sama seperti saudara tertua yang mencintai adik perempuannya. Dan begitupun seharusnya kamu.”

Alunan musik alam samar terdengar. Menemani angin yang mulai mendendangkan doa memuja Tuhan. Sebagian liriknya terdengar menyindir, sebagian lagi terdengar indah, namun menakutkan.
 
“Aku merana. Iya, kan?” tanyaku dalam pelukan. Suhu tubuhnya menghangat seiring malam yang mendingin. Pria itu tidak setuju,

“Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?”

“Entah. Aku hanya merasa seperti itu.”

“Bersyukurlah sedikit. Aku dengar itu obat paling ampuh untuk penyakit hati.” balasnya. Ia meraih gelas dan meminum isinya hingga habis. Aku bangun dan menawarkan diri untuk mengambilkannya segelas lagi. Ia menolak,

“Teh buatan mu tidak terlalu enak.” katanya sambil menarikku kembali ke dalam pelukannya. Aku tertawa mendengarnya, menggumamkan kata setuju. Setelahnya, kesunyian yang mendominasi.

“Sejak kapan kau di sini?” tanya pria itu akhirnya. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang aku sewa dari Gama kemarin malam. Kamar ini berada di lantai tiga sebuah ruko dengan ukuran tiga kali empat yang dilengkapi sebuah kamar mandi dan dapur kecil di pojok ruangan. Ruko berlantai enam ini terletak di ujung kota, berdekatan dengan sebuah kampung yang sejuk dan damai. Suasana di sini masih sangat tenang, dan itu yang membuatnya terlihat sempurna untuk dijadikan pelarian.

“Sejak kemarin.” aku mempererat pelukanku, mencoba tidur di atas tubuh pria itu. Kini giliran sunyi yang berbicara. Entah kenapa,disaat-saat seperti ini, sunyi terdengar lebih merdu dari biasanya.

“Ali, kau tahu siapa pembunuh mimpi terbesar dan terbanyak di dunia?” tanyaku menguapkan diam. Pria itu menggelengkan kepalanya.

“Siapa?”

“Orang Tua..”  

Ia mendengus, “Apa itu masalahnya? Mereka membunuh mimpi mu?”

Aku tersenyum getir, “Miris, bukan? Orang-orang itu yang dulu paling semangat membantuku membangun mimpi. Tapi sekarang mereka malah menghancurkannya begitu saja. Merusak pondasinya dan membakarnya hingga habis. Entah lupa atau memang tidak tahu, mimpi itu dibangun di atas hati. Dan kini hatiku ikut hancur, melebur di antara api yang mereka buat. Mungkin itu yang membuatku merasa gamang. Aku ini apa hidup tanpa mimpi? Zombie?”

“Kau kan bisa membangun yang baru.”

“Pakai apa? Bahan bakunya sudah habis dibakar.”

“Pernah dengar kata ‘daur ulang’? Kita cari kepingan yang tersisa, lalu membangunnya kembali. Aku akan membantumu kali ini.”

Mudah untuknya mengatakan itu. Pria ini tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan mimpi dan harapan. Ia memiliki banyak pendukung di balik punggungnya. Ia selalu punya banyak orang yang akan ikut membawanya naik untuk meraih mimpinya.

Pria ini bermimpi, ia ingin sekali menjadi Sarjana Teknik. Semua orang tahu ia mencintai mesin. Itu sebabnya ia selalu senang berlari di jalan yang berhubungan dengan teknik mesin. Beruntungnya, ia tak pernah menemukan halangan apapun di sana. Dan berhasil masuk salah satu Universitas Teknik terkemuka di kota adalah bukti bahwa ia sudah setengah jalan menuju mimpinya.

“Pasti menyenangkan, ya? Mengetahui mimpi hanya tinggal beberapa langkah di depanmu. Aku iri.”

“Tak perlu merasa iri. Kau akan tahu rasanya nanti. Aku janji,”

“Jangan menjanjikan hal yang tak mungkin bisa kau tepati.”

“Aku bisa menepatinya. Aku tahu itu,”  ujar pria itu yakin. Aku meringis.

Kau tidak bisa membangun mimpi yang sudah hangus terbakar doa. Sekalipun bisa, itu akan memakan waktu yang sangat lama. Aku tahu Pria ini bersungguh-sungguh, dan itu yang membuatku takut.  Dia mungkin akan selalu ada di sini, membantuku, menggenggam tanganku untuk bangun. Tapi apa akan tetap begitu selamanya? Apa ia akan tetap berjalan di depanku meskipun ia sudah menikah dengan wanitanya? Atau, apa nanti ia akan tetap melindungiku di balik punggungnya saat ia telah memiliki sepasang anak manis di rumahnya? Aku benci mengakui ini, tapi suatu hari nanti ia pasti akan berbahagia dengan seseorang yang bukan aku. Ia akan meninggalkanku sendirian di masa depan. Dan saat itu terjadi, aku tidak mau melihat mimpiku kembali porak-poranda merasa kehilangan salah satu tiang penyangganya.

“Kau tidak akan berhasil, Ali. Akuilah itu.”

“Aku bisa. Kita bisa.”

Kulihat matanya kembali bersinar. Ada ketulusan yang murni di sana. sangat jernih dan menyejukan. Begitu menggoda untuk jatuh dan tenggelam.  Tiba-tiba ada yang bergemuruh di dalam dadaku. Seperti rasa takut, namun lebih besar dari itu. Keputusan yang selama ini aku sembunyikan menggulung keluar, menyeruak meminta pertimbangan. Ribuan kupu-kupu tiba-tiba hidup di dalam perut, menghasilkan geli yang tak pernah aku suka. Mereka berteriak seakan mengiyakan keputusan yang masih meminta persetujuan. Aku bimbang, menimbang-nimbang sebelum menerima.

” Ali, mana yang lebih baik? Mimpi atau Bahagia? “

“Apa maksud mu? Aku tidak me-..”

“Jawab saja. Aku mohon.”

Air mukanya berubah bingung. Ia terus memandangku, bertanya ada apa sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ku dengan pasti;

“Bahagia..” 

Demi mendengar itu, aku menghembuskan nafas berat.

“Kenapa? ada apa sebenarnya?” ia kembali bertanya. Ekspresinya memucat. Aku tersenyum, kemudian meletakan kepalaku diatas dadanya, mengucapkan ‘bukan apa-apa’ dan tertidur pulas disana. 

“Ini alasanku memanggilmu. Aku memintamu memilih satu untukku, dan kamu memberikanku pilihan yang memang sejak awal sudah aku pilih. Aku ketakutan, tapi aku harus tetap melakukan nya kan?” tanyaku seakan tak meminta jawaban.

Kupandangi garis lembut yang tergambar jelas di wajah Pria itu. Menelusuri bentuk hidungnya yang lancip dan sepotong bibir yang tipis. Kucium pipinya, menghirup wangi tubuhnya dalam-dalam. Perlahan aku melepaskan diri dari dekapan pria itu. Ia masih tertidur dengan pulas saat aku menaruh kepalanya di bantalan sofa dan menyelimutinya.

Aku membiarkan puluhan bening air turun dari mata. Aku tidak tahu aku harus sesakit ini untuk bisa bahagia. Makin lama sakitnya makin terasa. Begitu menyayat-nyayat, membuat bening itu makin deras turunnya.

“Aku tidak bisa melakukan ini! Ini terlalu sakit, aku tidak bisa.” isak ku makin kencang.

Bodoh! Apa yang aku lakukan?! Bukankah aku sudah memilih untuk bahagia? Lalu kenapa aku menyerah? Mundur bukan berarti aku akan selamat dari kesakitan seperti ini. Mundur hanya berarti mengulur waktu, mengumpulkan sakit yang lebih dari pada ini.

“Ayolah, bodoh! Kuatkan hatimu! Kau harus konsisten dengan pilihanmu! Jadilah bahagia!” makiku pada diri sendiri.

Kutatap lagi bayangan pria itu. Memilih untuk bahagia mungkin akan terasa meyakitkan, tapi berada di sini dan menyusun kembali mimpi, pasti akan terasa jauh lebih merana.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku pasti akan merindukan ini, batinku.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, aku bangun dari dudukku, mengecup kening pria itu, kemudian pergi dan meninggalkannya sendirian disana.

   ♠  

Mana yang lebih baik? Menjauhi bahagia untuk mimpi, atau bahagia dalam mimpi yang mati? Pilihkan satu untuk ku, dan aku akan tenang dalam khayal ku.

Pagi datang. Kali ini ia tidak ditemani sepi sejuk seperti biasa, melainkan ramai riuh yang mencekam. Suara sirine ambulan bersahutan bersama decitan mobil aparat kepolisian yang langsung turun mengamankan TKP. Telah ditemukan sebuah mayat anak perempuan yang tergeletak tak berdaya di depan sebuah Ruko berlantai enam pagi ini. Diduga, mayat perempuan berumur kurang dari delapan belas tahun itu mati bunuh diri dengan cara melompat dari atap ruko setelah sebelumnya menyayat nadinya sendiri menggunakan benda tajam.

Polisi mengatakan kejadian bunuh diri tersebut kemungkinan besar dilatar belakangi oleh perasaan depresi yang dimiliki korban. Terbukti dari ditemukannya sebuah kertas berisi pesan singkat yang ditinggalkan korban.

Mengetahui itu, warga yang berada di sekitar TKP berdesakan ingin melihat. Kerumunan warga lain berdatangan, dan menciptakan kerumunan sesaat. Sebagian membantu polisi dan paramedis, sebahagian lain sibuk berdesas-desus, menguapkan embun yang dingin.

Pagi itu, sebuah pesan menggantung di atmosfer paling atas; 

Vonis kutelah jatuh.
Mengoyak hati, membunuh batin.
Sakit, Namun ini yang terbaik. 
Selamat tinggal, kekasih. 
Kini aku mengejar mimpi, 
Di atas nirwana,  Di atas bianglala. 
Jangan khawatir, Kekasih. 
Karena kini aku akan bahagia,
dalam sunyi kematian..

******

Bogor, 5 Mei 2014.
Ayu Tien

Iklan

5 thoughts on “Percakapan di Ujung Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s