FF: 22 #NulisRandom2015 (Day 4)

image

Aku suka dengan cara duapuluh dua mempertemukan kita.

Seperti waktu itu, saat aku menangkap senyum yang kau lempar pada tanggal duapuluh dua di bulan September. Kau datang dengan segerombolan temanmu, membawa setumpuk kharisma yang menusuk-nusuk mata—membuatku merana oleh perasaan suka yang luar biasa. Aku termasuk orang yang tidak percaya dengan istilah ‘Jatuh cinta pada pandangan pertama’ tapi kamu jelas adalah sebuah pengecualian.

Aku menyukai mu pada detik duapuluh dua, dan mulai gila pada duapuluh dua selanjutnya. Kau yang begitu mempesona, tak jarang kudapati mencuri pandang dengan kecepatan luar biasa, membuatku betah berlama-lama menghabiskan nasi goreng yang ada dimeja. Dalam hati aku berdoa, mudah-mudahan kau bergerak dari sana, menuju sini, dan memberikanku peluang untuk lebih jatuh cinta lagi.

Tuhan rupanya memang maha murah hati. Tak habis lima belas menit, kau datang dan membagi senyum. Canggung tak bisa kita hilangkan ketika pembicaran mulai menampakan diri. Mengganggu, tapi jelas tak akan pernah bisa kita benci.

Aku ingat, kita lebih banyak diam ketika itu. Aku sibuk dengan ronaku, dan dirimu dengan perasaan kikukmu. Tak ada kalimat yang lebih dari satu paragraf. Hanya ‘ya’ ‘apa’ dan ‘tidak’. Dan kita terus begitu, sampai akhirnya kau berjanji akan menemuiku lagi pada purnama yang lahir tepat minggu ini.

Setelah perjanjian itu, kita jadi lebih dekat. Kita tak lagi malu-malu untuk mengenal satu sama lain. Banyak tempat yang kita datangi, mulai dari pusat perbelanjaan sampai lautan yang kau kagumi. Aku bahkan sudah tak bisa menghitung berapa banyak kedai kopi yang kita singgahi hanya untuk saling berbagi. Berbagi tawa, berbagi cerita, bahkan, berbagi masa depan.

Tapi aku tahu, hanya kedai kopi Bang Jo lah yang menjadi tempat favorit kita. Di sana kita banyak membuang waktu. Menjadikan kenangan sebagai awan-awan putih yang ikut terbang bersama kepulan uap kopi.

Salah satunya adalah ketika angka dua puluh dua masuk pada bulan Juni. Kau bilang itu adalah hari ulang tahunmu. Aku terkejut. Aku belum menyiapkan apapun hari itu. Aku bahkan tidak tahu bahwa ini adalah hari dimana manusia setampan kamu dilahirkan. Aku kelimpungan, sedangkan kamu tertawa bahagia.

“Jadikan hari ini sebagai kencan pertama kita, dan aku akan memaafkanmu dengan senang hati.” ucapmu sambil memangku dagu.

Demi mendengar itu, roman merah muda kembali bersarang di kedua pipiku. Aku tak mengatakan apapun, melainkan hanya mengangguk sambil menghindari tatapanmu yang makin lekat memandangi.

Selain itu masih banyak angka duapuluh dua yang entah dengan sengaja atau tidak kau jadikan sempurna. Entah itu duapuluh dua yang menjadi hari jadi kita atau duapuluh dua tangkai bunga yang selalu kau berikan. Tapi kau tau duapuluh dua apa yang paling sempurna? Benar, pernikahan kita.

Pernikahan yang akan terjadi duapuluh dua hari setelah hari ini. Penikahan yang akan mengikat duapuluh dua janji juga mimpi. Pernikahan yang akan selalu aku tunggu, yang akan menjadi duapuluh dua paling abadi di dalam hidupku.

*****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s