JUNI: Julian si Menyebalkan #NulisRandom2015 (Day 2)

Cerita sebelumnya: Day One.
Kalau ada yang mau lihat info #NulisRandom2015 di sini.

*****

Aku kehilangan kamarku.

Bukan kehilangan dalam arti sesungguhnya, sih. Kamar itu masih ada. Masih sama seprti yang dulu. Cat putih, kasur kecil dengan selimut super tebal, Rak buku raksasa di sebelah pintu kamar, TV, komputer, mereka masih sama. Hanya saja, semenjak Julian resmi tinggal di kamar sebelah, aku jadi ngeri sendiri masuk ke dalam kamar.

Yap. Julian, pria yang katanya bisa mendengar isi pikiranku, memilih kamar Mei sebagai tempat tidurnya. Sering aku melihatnya mondar-mandir di jendela, membawa buku atau kertas. Yang membuatku sebal adalah, setiap ia melihat wajahku, ia selalu tertawa. Kadang tersenyum dan menyapaku—yang tentu saja langsung kabur tanpa lagi memikirkan sopan santun. Aku takut dengan orang itu. Matanya seperti bisa menelanjangiku.

“Juni? Belum tidur?” Aku melihat ibu keluar dari kamarnya. “Tumben sekali. Ini sudah jam sepuluh, loh.” lanjutnya sambil mengusap-usap keningku. Aku memang tidak pernah tidur lebih dari jam sembilan malam. Mengapa? Tidak tahu. Semenjak kecil aku sudah seperti itu.

“Belum ngantuk, bu.” balasku sambil menekan-nekan remote TV.

“Belum ngantuk apa? Kantung mata sudah sebesar sanggul juga. Tidur sana. Besok sekolah, kan?”

Aku manyun dan mematikan TV. Sebelum naik ke kamar, aku sempat mencuri beberapa potong roti dan segelas susu cokelat dari dapur. Lumayan, bisa buat cemilan sebelum tidur. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung melirik jendela yang tertutup tirai. Aman. Tidak ada suara atau apapun dari sana. Mungkin Julian sudah tidur.

Julian sudah hampir tiga hari tidur di sana. Selama tiga hari itu pula dia mencoba bicara padaku. Tapi aku menolaknya. Aku sudah bilang kalau aku tidak suka pandangannya, kan? Aku tidak pernah setidak sopan ini dengan orang lain, tapi Julian, aku tidak perduli. Aku tidak suka dia dan aku tidak akan pernah mau bicara dengannya.

Meskipun dia tampan? Ya! Meskipun dia sangat tampan.
Atau seksi? Urm, ya..
Atau memiliki senyum manis? Uh..

Tok!

Aku menengok ke arah jendela. Seperti ada benda yang dilempar ke jendelaku.

Tok!

Jangan bilang itu hantu yang selalu diam di dalam kamar Mei? Ah, tidak mungkin. Hantu itu sudah lama menghilang. Kabar baiknya, kedatangan Julian sepertinya membuat hantu itu pergi dari—eh, Julian? Tunggu.. Jangan bilang dia.. TIDAK MUNGKIN!

Tok! Tok! Tok!

Suara itu makin sering. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin Julian mendengarkan aku, kan? Iya kan?

Dengan gerakan cepat aku melompat masuk ke dalam selimut. Bersembunyi. Aku akan pura-pura tidur, jadi pria itu tidak akan bisa menggangguku.

“Juni, aku tahu kamu belum tidur.” itu suara Julian. “Keluar sebentar, aku butuh sesuatu.”

Butuh sesuatu? Apa? Kenapa dia memintanya padaku? Memang aku ini siapanya? Enak saja minta bantuanku! Kita bahkan bukan teman dan aku membencimu!

“Hahaha.. Ayolah Juni, aku hanya ingin pinjam sepidol merah. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi setelah itu,” Julian berkata lagi. Setelah itu ia kembali mengetuk jendela. “Tolong, aku mohon..”

Aku mendengar suaranya jadi lebih lembut. Uh, dia janji tidak akan menggangguku lagi, kan? Mungkin bukan masalah jika aku meminjamkannya sepidol. Ya, demi kenyamanan dan kualitas tidurku juga.

Dengan cepat aku mengambil dua sepidol merah dari meja belajar dan melangkah ragu-ragu ke arah jendela. Saat aku membuka tirai, aku melihat Julian ada di sana, duduk menyamping di atas jendela. Aku kaget saat sebuah benda terlempar di kaca jendelaku. Rupanya ia benar-benar melempar batu!
“Hai!” Julian melambay. Senyumnya melebar saat aku membuka kaca jendela.

“Maaf soal batunya. Tanganku tidak terlalu panjang untuk mengetuk,” ia meminta maaf. Aku hanya mengangguk, mengiyakan, lalu memberikan sepidol pada Julian.

“Tunggu! Sebentar aku kembalikan,” pinta Julian saat aku hendak menutup pintu.

“Kembalikan besok saja,”

“Aku tidak suka menyimpan barang yang bukan milikku. Kamu tunggu saja sebentar dari pada nanti kaca jendelanya aku ketuk lagi, kan?” Ia melompat turun dan meraih sebuah papan jalan. Kemudian membuat garis-garis dengan cepat. Aku mendesah pelan. Aku ngantuk!

“Ini baru jam sepuluh, Juni.” Julian tertawa meski wajahnya tidak lepas dari kertas.

“Kamu benar-benar bisa baca pikiran orang, ya?” tiba-tiba aku bertanya.

“Ya,”

“Benar-benar mendengar apapun yang orang pikirkan?” Aku bertanya lagi. Julian mengangkat kepalanya, menatap wajahku lalu mengangguk.

Serius? Dia tidak bohong? Menurutnya aku akan percaya semudah itu? Ah, kenapa tidak di tes saja? Akan aku suruh dia menebak—

“Apa?” Julian memotong, “Kamu mau aku menebak apa?” tanyanya dengan senyum geli.

Aku melotot.

Jadi, kamu benar-benar bisa membaca apa yang aku pikirkan?

“Ya.”

Aku menahan napas. Matsuyama Kenichi itu tampan! Coba ulangi kalimat tadi.

“Matsu—apa tadi. Maaf aku tidak pandai bahasa jepang. Kenichi apa? Dia siapa? Menurutmu dia tampan? Dibanding denganku apa masih lebih tampan dia?”

Rahang bawahku resmi jatuh dengan dramatis. Dia benar-benar bisa membaca pikiranku?!

“Kan aku sudah bilang dari awal. Aku bisa tahu apa yang ada di pikiranmu, Juni.” pria itu terkekeh, lalu kembali sibuk dengan gambarnya.

“Tapi tidak usah takut, Juni. Tidak selamanya aku bisa mendengar isi pikiran orang lain. Kau lihat ini?” Julian menunjuk kuping kanannya.

“Jika aku menyumbat telingaku yang ini, aku tidak akan bisa mendengar suara hati mereka. Hanya suara-suara normal. Sama sepertimu.” Ia menjelaskan.

Kalau begitu kenapa dia tidak menutup kupingnya saja setiap hari. Dia tidak tahu ya, kalau menguping itu termasuk kejahatan?

“Hahaha.. Maafkan aku, Juni. Tapi kupingku bisa sakit jika disumbat sepanjang hari.” katanya lalu memberikan spidolku kembali.

“Aku selalu membuka penyumbat telingaku di malam hari, terutama saat ingin tidur.”

“Dan itu mengapa kamu tahu aku belum tidur tadi?” tanyaku. Julian mengangguk.

“Dan itu mengapa aku juga tahu bahwa kamu tipe pemikir.” Julian menambahkan, “Banyak sekali yang kamu pikirkan? Aku sampai pusing. Berhentilah takut dan coba untuk hidup lebih santai. Dunia tidak se-sinetron yang kamu pikirkan, Juni.”

Apa?!

“Dan satu lagi. Umurmu baru enam belas, kan? Berhentilah membuka situs-situs aneh. Itu tidak baik untuk remaja sepertimu.”  Julian berkata dengan tampang serius.

“Atau setidaknya tunggu sampai kamu berumur duapuluh satu. Hahaha..” Dia tertawa lalu menutup jendela kamarnya,

“Terima kasih spidolnya, ya. Selamat malam!” Julian melambay lagi sebelum menutup tirai jendela. Dari jarak segini, aku bahkan masih bisa mendengar samar tawanya yang berderai, bergerak menjauh meninggalkan aku dan wajah merahku. Dia.. Dia…

“Orang gila!”

Aku menutup jendela dengan keras hingga menimbulkan suara yang cukup lantang.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Aku Malu!

*****

Jadi pengen teriak ‘Apa sih, yuu’ deh. -_- Hahaha 😀

image

Iklan

2 thoughts on “JUNI: Julian si Menyebalkan #NulisRandom2015 (Day 2)

  1. Waa,, bikin penasaran. Tapi,,, kata “melambay” yang efektif itu -> “melambai”. Oke, lanjut terus ceritanya! 😀 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s