JUNI: Guru baru #NulisRandom2015 (Day 3)

Cerita sebelumnya di sini

Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar tidur Juni. Suara burung peliharaan bapak di halaman belakang terdengar seperti orkestra nyanyian pagi. Sungguh awal hari yang indah. Tapi tidak begitu untuk Juni.

Hari ini ia terlambat bangun, dan itu semua dikarenakan oleh Julian. Pria itu membuatnya tidak bisa tidur semalaman karena malu. Ia tidak menyangka Julian bisa tahu kegiatannya yang satu itu. Sumpah! Ia baru satu kali itu melakukannya karena ia penasaran. Setelah itu ia langsung tutup situsnya, kok! Well, ya.. Lihat-lihat sedikit, sih. Tapi sumpah enggak pernah lebih dari itu!

“Julian menyebalkan!” teriak Juni, tidak lagi perduli Julian bisa mendengarnya sekarang ini. Ia membenci Julian!

Setelah mengumpat, Juni bergegas. Gerbang sekolah akan ditutup dua puluh menit lagi, dan ia masih kalang kabut mengetuk pintu kamar mandi. Jam segini, Adik laki-lakinya yang mulai masuk SMP pasti sedang mandi. Dan percayalah, Toni—begitu ia biasa dipanggil—tidak membutuhkan waktu yang sebentar untuk selesai.

Toni itu kecentilan. Maklum, dia remaja tanggung. Sedang asik-asiknya tebar pesona pada teman yang ia sukai. Juni sendiri kadang suka kesal kalau Toni meminjam shampo atau lulur mandinya.  Tapi dilarangpun Juni merasa percuma. Toni sama keras kepalanya dengan bapak.

Lima belas menit kemudian, Toni keluar dengan aroma seribu bunga di taman. Setelah mengumpat dan sedikit bertengkar, Juni akhirnya bisa mandi dan bersiap menuju sekolah.

“Sarapan dulu, Juni!” Teriak ibu saat Juni berlarian menuju rak sepatu.

“Enggak akan sempat, bu! Aku berangkat!” Juni melambay ke arah ibu dan bergegas pergi menuju pangkalan ojek terdekat. Di saat-saat seperti ini, ojek merupakan alat transportasi yang paling tepat, cepat dan irit waktu.

Setelah melalui proses nego harga yang cukup alot dengan abang-abang ojek, dan jalanan kota yang padat merayap di hari kamis, akhirnya Juni sampai juga di sekolah. Gerbang sudah di tutup saat Juni turun dari motor. Beruntung bagi Juni, satpam sekolahnya sedang dalam mood yang baik pagi ini. Jadi Juni bisa dengan mudah melewati gerbang tanpa harus membujuk sedemikian rupa.

“Lain kali jangan terlambat lagi!” pesan pak satpam akan Juni ingat selamanya.

Sampai di kelas, Juni belum melihat ada satupun guru di sana. Murid-murid yang lain juga masih santai-santai di mejanya. Ada yang mengobrol, main gitar, bahkan main kartu. Woh! Ini pasti hari keberuntungannya.

“Pak Jono belum datang?” Juni bertanya pada Caca, teman sebangkunya.

“Loh? Memangnya lo belum tahu?” Caca menatap Juni tidak percaya, “Pak Jono berhenti. Tadi baruuuu aja pamit. Katanya mau lanjutin sekolah ke luar negeri.” katanya sambil menyisir rambut.

Juni memberikan tatapan sumpah-lo-demi-apa ke arah Caca. Wah, sayang sekali. Padahal Juni suka dengan cara guru itu mengajar.

“Terus yang menggantikan pak Jono siapa?” tanya Juni lagi penasaran.

“Belum tahu. Ini juga lagi pada nunggu gurunya. By the way, PR matematikanya sudah selesai? Gue lihat dong,” Caca mengedip-ngedip matanya ke arah Juni, meminta contekan. Seperti biasa.

Tak lama kemudian, guru baru masuk ke dalam kelas. Itu seorang laki-laki, berbadan ramping, namun tegap dan sangat penuh percaya diri. Kemeja biru muda yang ia kenakan melekat pas pada sosoknya yang tinggi. Wajahnya kotak, bermata bulat dengan alis tebal dan hidung yang mancung. Ia tersenyum, menyapa seluruh kelas.

“Selamat pagi semua. Saya guru kalian yang baru. Perkenalkan, nama saya Julian.”

Juni melotot. Memandang tidak percaya pada Julian yang malah mengedip genit pada Juni.

Oh, God must be kidding now..

******

Harus Juni akui, Julian cukup baik dalam mengajar. Pembawaannya yang santai dan jenaka mampu mengubah kelas matematika yang biasanya sepi dan penuh ketegangan menjadi lebih santai dan menyenangkan.

Cara pria itu mengajar juga sangat asik dan mudah dimengerti. Anak-anak perempuan yang biasanya sibuk dengan ponsel saat pelajaran, tiba-tiba jadi sok penasaran dengan pelajaran ini. Mereka jadi banyak bertanya pada Julian. Alasannya apa lagi selain ingin diperhatikan Julian? Anak-anak centil itu benar-benar menyedihkan.

Juni sendiri, yang tadinya aktif di kelas menjadi lebih diam dan enggan bertanya. Setiap Julian menerangkan, ia akan mendengarkan tanpa melihat matanya. Ia masih takut isi kepalanya di baca lagi oleh Julian.

Ia masih tidak mengerti mengapa Julian bisa menjadi gurunya. Matematika pula! Dia tampak terlalu muda untuk itu. Bukan berarti Juni mulai menilai orang dari fisiknya, ya. Hanya saja Julian memang lebih terlihat seperti anak kuliahan ketimbang guru matematika.

Pelajaran ‘pak Julian’ selesai dalam dua jam. Setelahnya dilanjutkan oleh pelajaran Sosiologi dan Bahasa Inggris sebelum bel berdering pukul sepuluh pagi. Seperti biasa, Juni langsung pergi ke kantin sekolah, membeli dua bungkus roti isi selai kacang dan sebotol air putih, kemudian duduk di pojok kantin sendirian. Biasanya Mei yang menemaninya makan. Wanita itu selalu menghampirinya di saat jam istirahat. Mereka bahkan sering berbagi makanan. Mei selalu suka masakan yang dibuat oleh ibunya Juni. Ia biasanya akan membawa dua bekal makanan ke sekolah. Satu untuknya, dan satu lagi, jelas, untuk Mei. Sebagai balasan, Mei akan membantu Juni menyelundupkan beberapa kaleng minuman bersoda ke kamar Juni, minuman yang sampai kapanpun tidak akan pernah ibu izinkan masuk ke perut anak-anak tercintanya.

Ah, Juni jadi rindu dengan Mei. Semenjak pergi, wanita itu belum pernah membalas E-Mail yang ia kirimkan. Juni harap pesannya belum dibalas karena Mei terlalu senang di negeri sana, dan bukan sebaliknya.

“Kantin di sini lumayan juga,”  seseorang duduk di atas kursi panjang, di samping Juni. Pria itu menengok dan melambay ramah, “Hai.”

Juni tersedak rotinya sendiri. Ia kaget melihat Julian dengan santainya meletakan semangkuk Mie Ayam dan Jus Jeruk di meja. Alisnya naik saat menatap Juni yang mengerutkan dahi.

“Apa? Aku enggak boleh duduk di sini?” tanya Julian.

Juni tidak menjawab. Ia hanya diam sambil menundukan kepala dalam-dalam, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kontak mata dengan pria itu. Ia masih malu dengan perkataan Julian semalam. Ia merasa rendah diri setiap kali mengingat kejadian itu.

“Aku tidak tahu kalau kamu siswa di sini. Ini menyenangkan. Kita jadi bisa lebih sering bertemu,”  kata Julian bersemangat. Juni masih enggan membalas. Ia tetap menunduk meski Julian menanyakannya banyak sekali pertanyaan seperti berapa umurmu, apa makanan kesukaanmu, siapa penyanyi favoritmu dan lain-lain.

Julian menghela nafas, “Kamu bener-bener benci aku, ya?”

Juni masih tidak bergeming.

“Aku cuman ingin mengobrol.” Juni tidak perduli. Dengan perlahan sekali ia mengunyah rotinya, berlagak seakan-akan tidak ada satupun orang di sampingnya.

“Juni coba lihat ini,” Julian menunjukan telinga kanannya, “Aku pakai penyumbat telinga hari ini. Aku tidak akan bisa membaca pikiranmu.” jelas Julian.

Juni melirik Julian. Benar, pria itu memasang sebuah alat mirip headset tanpa kabel di telinganya. Benda itu memiliki warna senada dengan warna kulitnya yang kuning langsat dan berbentuk menyerupai telinganya, melingkar dari belakang telinga hingga ke depan. Tiga buah anting kecil berwarna hitam berbaris di sana.

Lihat? Bahkan gayanya sama sekali tidak seperti guru. Guru macam apa memangnya yang memakai anting seperti itu?

“Atau kau mau aku melepasnya? Jadi aku bisa mengobrol denganmu tanpa bicara?” Julian bertanya lagi. Juni masih tidak menjawab. Ia malah memandangi Julian dengan tatapan curiga.

“Oke. Lebih baik aku lepas—”

“Jangan.” Juni menahan tangan Julian yang hendak naik ke telinganya. “Jangan dibuka. Aku tidak suka pak Julian baca pikiranku. Itu mengganggu privasiku.” tambah Juni.

Julian tersenyum dan menurut pada Juni.

“Jadi, kamu suka matematika?” Julian bertanya sambil mulai memakan Mie Ayamnya.

“Iya.”

“Mengapa?”

“Suka saja.”

“Tidak ada alasan lain?”

“Tidak.”

Julian menghela nafas lagi, “Mungkin memang lebih baik aku buka penyumbat telinganya,”

“Jangan! Aku kan sudah mau mengobrol!” Juni menahan tangan Julian lagi.

“Ngobrol apanya? Kamu cuma bilang ‘Iya’ ‘Tidak’. Aku merasa seperti bicara dengan Kulit Kerang Ajaib.” kata Julian kesal sendiri.

“Begini saja. Kita gantian. Kamu yang tanya sekarang.” Julian memiringkan tubuhnya, menghadap Juni. “Ayo. Tanya apa saja.”

Juni menghela nafas panjang. “Kenapa Pak Julian kepingin sekali ngobrol sama saya?” Juni memulai pertanyaannya.

“Karena kamu lucu. Apa yang ada di sini,” Julian menunjuk kepala Juni, “Dengan apa yang kamu tunjukan ke orang-orang benar-benar bertolak belakang. Itu menarik, loh.” jawab Julian lugas.

“Pertanyaan berikutnya?”

Juni berpikir sebentar, “Kenapa Pak Julian jadi guru?”

“Tidak tahu. Ingin saja.” Julian mengangkat bahunya, “Dan Juni, berhenti memanggilku Bapak. Aku jadi merasa sangat tua.”

“Memangnya berapa umurmu?”

“Apa?” Julian nampak kaget.

“Umur.” Juni mengulangi pertanyaannya.

“Dua puluh lima?” Julian menjawab ragu-ragu. Juni berhasil mengendus kebohongan di sana.

“Yang jujur.” Juni menuntut. Wajah Julian tidak tampak setua itu.

Julian menghela nafas panjang sebelum menjawab. Dan dengan pasrah akhirnya ia mengaku, “Oke, aku mengaku. Umurku 30 tahun.”

Juni melotot. “Pembohong!”

“Bener, kok. Kamu tidak percaya? Kamu mau melihat tanda pengenalku?” Julian bercanda. Tanpa di sangka Juni menyodorkan tangannya, meminta kartu tanda pengenal Julian.

“Ya ampun. Kamu serius?” tanya Julian tidak percaya. Meski begitu ia tetap mengeluarkan dompetnya dan memberikan Juni apa yang ia minta.

Juni membaca dengan seksama. Julian Hartanto. Lahir tanggal 19 Juli 1984. DELAPAN PULUH EMPAT?!

“Tahun ini umurnya 31? Aku mau panggil bapak saja kalau begitu.” kata Juni mengembalikan kartu pengenal tersebut pada Julian.

“Heh. Enak saja. Panggil kakak atau abang. Lagipula aku juga tidak setua itu. Aku masih muda, masih sangat bersemangat!”

“Tua tetap saja tua,” Juni tidak mau mendengar, “Umur segitu seharusnya sudah punya anak.”

“Jangan sok tahu kalau belum punya KTP.” Julian mencibir, merasa tersinggung dengan ucapan Juni.

Tiga menit setelahnya mereka lebih banyak diam. Julian sibuk mengumpat sambil menghabiskan makanannya. Sedangkan Juni masih diam dengan pikirannya, merasa tidak menyangka dengan umur Julian. Tigapuluh. TIGAPULUH! wajahnya padahal tidak tua sama sekali. Kalau dia mengaku baru lulus kuliahpun rasanya Juni akan percaya.

TET! TET! TET!

Bel masuk berbunyi. Julian bergegas menghabiskan jus jeruknya dan berdiri dari bangku.

“Aku masih harus mengajar,” Julian seperti menjawab tatapan bingung Juni. Dia guru tapi buru-buru banget waktu dengar bel. Juni yang siswa saja santai.

Saat Juni membereskan sampah makanannya, ia baru sadar ternyata selama ini Julian dan dirinya telah menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin. Setiap pasang mata di sana menatap ke arah meja mereka dengan pandangan ingin tahu. Juni bahkan bisa mendengar desas-desus tidak enak dari sini.

“Jangan perdulikan mereka, Juni.” Julian tersenyum, menatap Juni lekat-lekat.

“Mereka tidak punya hak merendahkanmu. Jadi jangan terpengaruh.” lanjut Julian, mencoba menguatkan.

“Aku memang tidak terpengaruh.” Juni mengangkat kedua bahunya tidak perduli. Lalu berjalan keluar kantin, disusul oleh Julian yang tetawa.

“Sampai ketemu di rumah.” Julian menepuk punggung Juni pelan lalu berjalan mendahului.

“Yeee.. Siapa juga yang mau ketemu dia di rumah?” Umpat Juni kesal. Matanya mengikuti punggung Julian yang berlarian menjauhinya. Dalam hati, ia akhirnya bertanya:

Loh? Memangnya yakin gak mau lihat dia di rumah?

*****

Hari ke-tiga! Wooohhh.. Makin enggak jelas -?-

image

Iklan

2 thoughts on “JUNI: Guru baru #NulisRandom2015 (Day 3)

  1. Aku salah satu pembaca di wattpad yang melipir ke sini karena penasaran sama lanjutannya XD

    Ternyata ada walau cuma secuil XD aku gak nyangka Julian bakal beneran setua itu //disepak// dia awet muda berarti ya(?)

    Ditunggu lanjutannya (baik di sini atau di wattpad)

    Semangat menulis! XD

    Salam kenal,

    Kei 🙂

    Suka

    • Hai kei. Salam kenal 😀

      Jangankan kamu, aku yang nulis aja enggak nyangka. Loh? Hahaha.. aku udah update watty loh. Baca yaaa 😉 hehehe terima kasih sudah mau mampir :*

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s