JUNI: When Mei Leave Juni #NulisRandom2015 (Day One)

Mei sudah tidak lagi ada ditempatnya. Dia pergi semalam, katanya naik pesawat paling malam. Kamar jadi terasa lebih sepi tanpa lagu ajep-ajep yang biasa Mei pasang setiap malam. Dia mengaku suka dengan musik yang menghentak, membuatnya menjadi lebih bersemangat katanya. Walaupun aku tahu, sejujurnya dia hanya tidak ingin mendengar orang tuanya bertengkar di lantai bawah.

Rumah kami berdampingan. Kamar kami juga bersebelahan. Hanya dibatasi oleh dinding putih pendek yang biasa Mei pakai sebagai pijakan jika ingin masuk ke dalam kamarku lewat jendela. Dari jendela itu pula kami biasa bertukar cerita. Mengobrol hingga larut malam. Sebenarnya, sih, hanya dia yang cerita, aku lebih banyak menjadi pendengar setia.

Orang-orang mengenal Mei sebagai gadis periang dan ramah. Tapi aku mengenalnya sebagai wanita yang pandai menyimpan isi hatinya. Bukan sekali aku melihatnya menangis. Berkali-kali. Ratusan kali. Biasanya ia akan masuk ke kamarku saat menangis. Duduk diam di lantai dan mengeluarkan air mata dalam diam. Tapi setelah itu ia akan kembali menjadi Mei yang ceria. Menyapa orang-orang dengan senyumnya yang luar biasa cantik.

Aku kasihan pada Mei. Tapi kini tidak lagi. Orang tuanya bercerai seminggu yang lalu. Jujur, aku bahagia mendengarnya. Jangan salang sangka. Aku senang karena setidaknya sekarang  Mei tidak akan sedih karena pertengkaran kedua orang tuanya.

Keputusannya untuk tinggal dengan neneknya membuat Mei harus meninggalkan aku sendirian. Sedih sebenarnya mengingat Mei adalah satu-satunya sahabat yang aku punya. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun selain mendukung apapun yang ia pilih untuk kebahagiaannya sendiri.

“Kamu juga harus bahagia, Juni!” Mei berkata sebelum berangkat.

“Carilah teman baru. Gaul ke luar, jangan mendem di rumah saja.” ia geleng-geleng kepala. Aku hanya bisa tersenyum masam.

Mencari teman tidak semudah mengganti chanel TV. Terutama untuku. Masalahnya aku tidak mudah percaya dengan orang. Aku juga sering mendapatkan kesulitan berinteraksi dengan orang baru. Jarang ada orang yang bisa bersabar dengan sikap diamku. Sejauh ini hanya Almo dan Mei yang bisa melakukan itu. Tapi kini keduanya sudah pergi meninggalkanku. Jauh pergi ke benua lain.

Aku memandang jendela kamar Mei yang tertutup rapat. Aku harap hantu yang biasa duduk di sana juga ikut pergi bersama Mei.

*****

Jam baru menunjukan pukuk enam pagi saat suara-suara berisik mengganggu tidurku. Ini hari minggu. Ilegal hukumnya bangun sebelum pukul tujuh pagi.

“Awas barang-barangnya jangan sampai jatuh!” teriak seseorang. Suaranya nyaring sekali, seperti suara perempuan tua yang menyebalkan.

Aku menyibakan selimut dan melompat turun dari kasur saat mendengar suara ibu menyapa seseorang. Sepertinya menyapa perempuan bersuara menyebalkan tadi. Dan benar saja. Ibu memang sedang mengobrol dengan wanita paruh baya berambut putih yang belum pernah aku temui sebelumnya. Mereka tampak akrab sekali. Ibu memang begitu, ramah dengan semua orang. Berbeda sekali denganku yang pendiam. Kadang aku suka bertanya-tanya sendiri, apa jangan-jangan aku ini bukan anak ibu, ya?

Aku masih mengintip dari balkon kamar sampai lima belas menit ke depan. Wanita tua itu sepertinya akan mengisi rumah Mei yang sekarang kosong. Terlihat dari tiga buah truk putih besar yang terus mengeluarkan peralatan-peralatan rumah seperti laci, meja, TV dan lain-lain. Cepat sekali. Baru kemarin ditinggal pemiliknya, sekarang sudah ada yang akan mengisi lagi.

“Siapa yang akan tidur di tempatnya Mei, ya?” aku bertanya-tanya.
Masalahnya, perempuan itu hanya sendirian di sana. Aku tidak melihat orang lain yang terlihat seperti keluarganya. Hanya ada Ibu dan beberapa pria berseragam putih yang aku yakini sebagai pekerja dari kantor jasa pindahan. Apa di tinggal sendirian?

Memilih untuk tidak perduli, aku beranjak pergi untuk mandi. Rencananya, setelah sarapan aku akan menghabiskan hari libur ini dengan tidur-tiduran di kamar. Membaca buku atau menonton film yang kemarin baru aku beli sepulang sekolah. Aku tidak ingin keluar rumah. Pokoknya, setelah sarapan harus langsung selimutan lagi!
Setelah ganti baju dengan kaus besar dan celana training Nike abu-abu, aku membuka jendela kamarku. Pagi-pagi udaranya masih bagus. Adalah bijaksana kalau aku membiarkan udara segar masuk ke dalam kamar.

Namun, bertepatan denganku yang membuka jendela, seorang pria beridiri tak jauh di depanku. Berkacak pinggang di dalam kamar Mei yang jendelanya tidak dibuka. Pria itu menatapku. Aku juga menatapnya. Matanya yang bulat berkedip beberapa kali. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, memandangku dengan dahi mengkerut.
“Hai!” dia melambaykan tanganya. Suaranya sedikit tidak terdengar karena terhalang kaca jendela. Tapi aku tahu dia baru saja mengatakan Halo. Terlihat dari bibirnya yang bergerak.

Aku bingung harus bagaimana, jadi aku memilih untuk membungkukkan badanku cepat.

“Namamu siapa?” dia bertanya. Suaranya masih agak kecil. “Namamu si—ah, gimana cara bukanya sih?” pria itu meracau. Mungkin ia kira aku tidak mendengar pertanyaannya. Dengan sibuk ia mendorong-dorong jendela. Tangannya bergerak liar mencari cara membuka jendela.

“Angkat kunci yang di bawah. Tarik ke atas,” kataku memberi tahu.

“Ha? Apa?” pria itu kurang dengar.

“Kunci! Yang di bawah. Tarik.” aku memperagakan cara membuka jendelanya. Setengah menit kemudian, dia baru mengerti. Jendela besar itupun terbuka tak lama setelahnya.

Thanks ya!” ucapnya sambil tertawa, “Saya baru pindah. Jadi belum tahu cara buka jendelanya.” lanjut pria itu.

“Iya. Bukan apa-apa.” aku mengangguk canggung. Ah, aku tidak suka bertemu orang baru. Rasanya sangat tidak nyaman.

“Ya sudah, saya permisi dulu—”

“Eh, tunggu. Siapa namamu?” pria itu memotong.

“Saya? Erm, panggil saja Juni.” diluar dugaan pria itu tertawa kencang sekali. Apa yang lucu?

“Tidak ada. Namamu bagus. Perkenalkan, namaku Julian. Kamu bisa panggil aku Juli.”

Aku melotot saat ia kembali tertawa. Bukan karena namanya. Well ya, karena namanya juga sih. Siapa yang nyangka Juni akan berteman dengan pria yang biasa dipanggil Juli? Tapi jujur, bukan itu yang membuatku kaget. Melainkan jawabannya. Ini kebetulan, atau dia memang bisa membaca pikiranku?

“Aku pilih yang kedua, Juni.” katanya lagi. Senyumnya mengembang lembut. “Hati-hati dengan pikiranmu. Aku pergi dulu, ya?” Julian mengangkat tangannya, bersiap menarik turun jendela.

“Oh, ya—..” gerakan Julian terhenti, “Terima kasih juga pujiannya. Aku tidak menyangka tubuhku ternyata cukup seksi untukmu. Sampai jumpa!” Lanjutnya lalu pergi dengan tawa yang berderai.

Wajahku memerah. Aku memang sempat memuji tubuh rampingnya tadi. Jadi dia mendengarnya? Mendengar soal..

“Orang gila! Kenapa dia bisa baca pikiranku?!” aku histeris, menatap kamar kosong di depanku. Tidak mungkin ada orang yang bisa membaca pikiran orang lain. Mana ada orang yang seperti itu? Itu tidak masuk akal sama sekali. Tapi, tadi itu.. Kenapa dia bisa tepat menjawab padahal aku tidak mengatakan apapun? Apa dia benar-benar bisa membaca pikiran orang lain? Pikiranku?
Aku menghela nafas panjang. Mudah-mudahan pria itu bukan orang yang akan menempati kamar itu. Mudah-mudahan..

*****

Day One! Woh! Ini cerita spontan. Masih enggak tahu selesainya bagaimana. Tapi, karena event ini enggak ada syaratnya, jadi semenjak kemarin udah komitmen tulis fiksi yang bersambung tiga puluh hari kedepan. Temanya enggak tahu, enggak ada. Haha.. Yang pasti karakternya memang pengen Juni dan Juli. Kan batasnya Juni awal sampai Juni akhir. Hehe.. Iya, tahu. Gue emang enggak kreatif. Mudah-mudahan bisa komitmen sebulan full. Amin. Semangat teman-teman yang lain juga! Komentar dan Saran sangat amat diterima di sini. Yang lain terima kasih juga karena mau baca 🙂 itu bersambung, jadi tunggu kelanjutan anehnya.hahaha.. 😀

image

Iklan

4 thoughts on “JUNI: When Mei Leave Juni #NulisRandom2015 (Day One)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s