#FFKamis – Anjing Ngepet

Kemarin malam, seekor anjing ditangkap karena dituduh mencuri uang. Mak Edan mengaku, ia pernah melihat anjing ini berkeliaran di sekitar rumahnya bersama seekor binatang yang dicurigai merupakan siluman babi ngepet.

“Uang bulanan saya hilang malam itu,” ceritanya. “Saya yakin mereka yang ambil, sebab di rumah tidak ada orang lain lagi kecuali saya dan suami.”

Termakan cerita Mak Edan, warga pun sepakat untuk menahan si anjing dan melakukan berbagai ritual, mulai dari dijampi, sampai menyiksanya dengan balok kayu dan kerikil. Biar dia balik jadi manusia lagi! alasannya.

Mak Edan menatap anjing tersebut dengan perasaan bersalah, “Demi bisa jajanin brondong. Maaf, ya!”

 

*****

sebab orang bilang, jalan sama berondong itu mahal XD untung aku lebih suka om-om~

Flashfiction 100 kata pas yang ditulis guna meramaikan #FFKamis di @MondayFF dengan topik FITNAH.

Iklan

#FFKamis — Abang Codet

Percakapan ini terjadi di desa kami setiap pagi. Tentang Abang Codet dan kelakuannya yang seenak kaki. Petantang-petenteng meminta uang pada para pedagang di pasar, lalu masuk ke dapur warga dan memakan apapun yang tersedia. Jika mereka protes? Bogem mentah jadi jawabannya.

“Saya muak dipalak terus. Kita harus melakukan sesuatu,” mulai salah satu warga.

“Kita bakar saja orangnya. Pukul ramai-ramai. Biar mampus.”

“Bicara baik-baik saja dulu,”

“Atau kita laporkan polisi?”

“Boleh. Siapa yang melapor?”

Warga yang ramai itu saling pandang. Tidak ada satu pun yang mau menjadi relawan. Mereka terus diam, bahkan, ketika Bang Codet datang meminta uang.

*****

Flashfiction ini dibuat untuk meramaikan #FFKamis yang diadakan oleh @MondayFF

Sudah lama pisan aku enggak buat flashfiction. Asa kaku gimana gitu XD

Misteri Dompet yang Hilang

image

Agus sedang sial hari ini. Dompetnya hilang. Padahal ada banyak benda penting yang ia simpan di sana; kartu identitas, kartu kredit dan ATM, juga sejumlah uang yang harus ia berikan pada Istrinya di rumah.

“Itu untuk bayaran anak sekolah saya,” katanya lesu. Saya mendengarkan.

Agus bercerita, ia yakin sudah menyimpan dompetnya di saku celana yang dikancingkan. Tidak pernah keluar kecuali sewaktu ia lapar dan harus membeli sepiring nasi padang.

“Aku kira mungkin jatuh di kantin bawah. Tapi sewaktu aku tanya, mereka bilang tidak ada benda hilang di sana. Aku memang agak ingat pernah membawa dompet itu kembali ke kantor, tapi lupa sudah dimasukan kembali ke kantung celana atau belum.” Agus melanjutkan di sela-sela isapan rokoknya. Aku masih mendengarkan.

“Sudah kamu cari di meja kerja?”

“Sampai celah meja aku periksa. Tidak ada.”

“Laci?”

“Nihil.”

“Di bawah CPU mungkin.”

“Kamu bercanda?”

“Kan, siapa tahu …,”

Agus membuang rokoknya. “Yang paling  bikin pusing adalah, KTP dan semua kartu-kartu yang ada di sana. Saya harus lapor ke Bank soal kehilangan kartu kredit dan segala macamnya. Itu ribet. Saya mana punya waktu buat itu.”

“Uangnya?”

“Itu juga bikin pusing, sih,” katanya garuk-garuk kepala. “Saya sial sekali hari ini.”

Saya ikut tersenyum masam.

“Omong-omong, bagaimana soal adikmu? Sudah dapat pinjaman untuk menebus obat?” Agus mengalihkan pembicaraan.

“Ya. Saya baru dapat rejeki siang tadi. Lumayan. Buat tambah-tambah.”

Agus menepuk pundakku akrab. “Syukur kalau begitu. Kudoakan adikmu cepat sembuh, ya. Beruntung benar kamu bisa dijatuhkan rejeki saat dibutuhkan. Tidak seperti aku …,” ucapnya. Aku masih tersenyum masam, memikirkan cara mengembalikan dompetnya yang kuambil diam-diam di atas meja, tadi siang.

#FFRabu — Misteri Istri Kedua

Semalam Hadi mendatangi kantorku. Dia memintaku untuk menyelidiki sebuah kasus perselingkuhan yang dilakukan istri keduanya.

“Setiap pulang kerja, aku mencium bau badan pria yang aku kenal di dalam kamar. Seperti bau sperma!”

Hadi curiga, istrinya main gila dengan tetangganya di dalam rumah.

“Aku khawatir, bagaimana jika Evan melihat mereka, dan jadi shok?!” Katanya menyebutkan nama anak lelakinya

“Tolong selidiki.”

Aku mengiyakan dan memulai penyelidikan.

Ini kasus mudah. Kurang dari satu hari, aku sudah menyelesaikannya dan melaporkan hasil penyelidikannya pada Hadi.

“Istrimu memang selingkuh,” kataku sambil memberikannya barang bukti berupa video yang aku ambil ketika istrinya sedang asik digauli anaknya sendiri.

*****

Bogor, 19 Agustus 2015.

Pas 100 kata tanpa judul dan lain-lain. XD

Flashfiction ini dibuat untuk meramaikan #FFRabu yang diadakan oleh @MondayFF

Cahaya itu… — #FF2in1 (Sesi 2) Flashlight — Jessie J.

Aku merasa semuanya hampa sekarang. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Semuanya gelap. Hidupku gelap.

Waktu seperti lelucon bagi mereka yang berharap banyak. Ketika ditunggu, ia akan berjalan dengan gerakan lambat. Tidak memberiku apa-apa, dan membuatku kecewa. Tapi ketika aku lupa padanya, maka ia akan memperlihatkan kemampuannya merusak hidup manusia. Mengacaukan suasana dengan satu gerakan cepat.

Bingung? Aku juga. Aku kesal pada waktu, itu kenapa aku ngelantur.

Tadi, aku baru saja di telepon Bima, pacarku. Kami bertengkar hebat. Ini pertama kalinya kami marahan karena Bima ketahuan jalan dengan sahabatku kemarin lusa. Aku kesakitan, merasa ditipu dua kali oleh dua orang kepercayaan. Aku menangis dan melempar ponselku ke pojok kamar hingga hancur berkeping-keping.

Dan itulah saat di mana semuanya bermula…

Aku kehilangan kendali diriku. Aku merasa semuanya gelap sekarang. Aku tidak bisa melihat jalan yang benar. Aku panik.

Cepat, aku langsung meraba-raba mejaku. Mengobrak-abrik semua benda yang ada di sana hanya demi menemukan barang itu. Satu-satunya barang yang bisa aku pakai di saat-saat seperti ini. Yang mampu mengembalikan cahaya hidupku…

SENTER.

“Si abang lupa beli token listrik lagi, deh, pasti.” Gumamku lelah sendiri, lalu bergerak mencari lilin dan api.

Lampu sialan!

*****

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program # FF2in1 dari
http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @Nulisbuku

#FFRabu — Kapal Selam

Suatu hari, hiduplah Pico—petualang serakah yang pergi mengarungi lautan demi mencari sebuah mutiara ajaib yang dapat mengabulkan tiga permintaannya.

Berhari-hari ia mencari. Menyelam menggunakan kapal dengan teknologi paling canggih abad ini. Peta dan informasi ia kumpulkan. Tapi mutiara itu tidak juga berhasil ditemukan.

Pico sudah hampir menyerah saat akhirnya ia menemukan mutiara itu di laut selatan, di antara kaki monster laut menyeramkan. Iapun bertarung sengit. Pico mengeluarkan jurus yang ia pelajari dari gurunya.

Tapi nihil. Pico tetap kalah. Kapalnya habis di serang. Dipotong menjadi dua.

Tak!

“Tamat…”

Aldo menghela nafasnya, “Sekarang aku udah boleh makan Pempeknya, kan sayang?”

*****

Boneka Susan — Prompt #84

Kau sedang di dalam mobil saat seseorang mengetuk jendela. Entah ia lelaki atau perempuan, tubuhnya di tutupi kain lusuh yang baunya menyengat. Orang itu memajukan tangannya, memintamu agar mau membeli boneka miliknya.

“Saya ini pengrajin boneka. Masa iya saya beli boneka jelek anda. Pergi sana!” Kau mengusirnya jauh-jauh agar mobilmu bisa segera keluar dari parkiran. Tapi itu tidak berhasil. Orang tadi tetap memaksamu agar mau membeli bonekanya. Berapa saja boleh. Untuk saya makan, katanya. Kau menyerah dan memberikan selembar duapuluh ribuan padanya yang langsung menciumi punggung tanganmu penuh haru.

“Namanya Susan. Bapak pasti kenal.” Katanya lagi sebelum pergi meninggalkanmu yang mengerutkan dahi.

Pandanganmu lalu beralih pada boneka anak perempuan yang tidak kalah lusuh dari si pengemis. Baju birunya seperti habis dikoyak seseorang. Rambutnya berantakan dan pitak sebelah. Bulu kudukmu merinding. Pengemis itu benar, kau seperti mengenal boneka ini. Tapi di mana?

Tiba-tiba saja kau teringat sesuatu.

“Tidak mungkin. Ini hanya kebetulan.” Kau terdengar seperti sedang meyakinkan dirimu sendiri. Wajahmu pucat. Boneka itu terlihat seperti sedang mengejekmu. Tanpa aba-aba lagi kau lempar boneka itu keluar jendela, menginjak dalam-dalam pedal gas sambil terus berkata, itu bukan dia.

*****

“Om boneka, mau main?”

Suara gadis kecil itu begitu indah di telingamu. Sosoknya yang mungil terlihat begitu menggemaskan dibalut gaun tipis berwarna biru. Ia masih lima tahun. Namun sosoknya sudah sangat menarik—bukan hanya bagi matamu—tapi juga gairahmu.

Tidak ada yang tahu soal ini, tapi kau adalah lelaki dewasa yang otaknya sakit. Kau girang luar biasa saat kakak perempuanmu datang menitipkan Susan. Suaminya sedang ada di rumah sakit. Keadaannya parah. Ia tidak mungkin membawa anaknya ke sana karena takut kena tular.

“Aku ambil Susan besok pagi. Tidak apa-apa, kan?”

Kau sama sekali tidak keberatan. Ini untungnya menjadi pengrajin boneka, semua anak akan mengganggapmu luar biasa. Begitu juga dengan Susan. Kau memberinya sebuah boneka yang mirip dengannya, lengkap dengan gaun biru satin yang indah.

“Tapi Susan harus nurut dulu sama om. Oke?”

Susan mengangguk bersemangat, menurut saja saat kau menuntunnya masuk menuju kamar yang pintunya kau kunci rapat-rapat.

*****

Malam ini kau kembali mimpi buruk.

Dalam mimpi itu, kau melihat boneka susan berjalan tertatih-tatih ke arahmu. Keadaannya lebih buruk, tanda merah seperti bekas cambukan terlihat di sekujur tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Bibir boneka itu bergerak-gerak, memanggil-manggil namamu sambil terus merintih kesakitan.

“Sakit, om… sakit… ” begitu terus hingga tiba-tiba cahaya menyilaukan keluar dari mulutnya yang terbuka. Matanya membelak hingga memutih dan ia berteriak nyaring sekali sebelum akhirnya tertawa dan menyerangmu dengan botol susu…

Kau bangun dengan tubuh berkeringat. Mimpi itu terasa begitu nyata.

Kini kau ingat dimana kau melihat boneka itu. Atau baju biru yang terkoyak itu. Atau rambut pitaknya. Kau melihatnya pada tubuh Susan, sesaat setelah kau melampiaskan hasrat binatangmu padanya.

Dan kaupun menangis ketakutan saat menemukan boneka yang kau buang itu ada tepat di hadapanmu, duduk di atas sofa dengan tubuh hancur terkoyak. Matanya yang hitam memandangmu marah. Sepasang mata yang kau kenal betul milik Susan—keponakan yang mati kau perkosa, setahun yang lalu.

*****